Kampung Nelayan Merah Putih Makassar Jadi Motor Utama Ekonomi Pesisir

Jumat, 07 Agustus 2026 | 14:30:32 WIB
Pemerintah terus mempercepat transformasi ekonomi kawasan pesisir melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) (FOTO: NET)

JAKARTA - Otoritas pemerintah giat mengakselerasi pembenahan struktur ekonomi di area pesisir melalui skema Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Pimpinan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dari sumbernya menyatakan bahwa KNMP bukan cuma menghadirkan sarana fisik untuk nelayan, melainkan juga menumbuhkan simpul pertumbuhan ekonomi anyar guna melipatgandakan nilai jual produk kelautan serta kemakmuran warga pesisir.

Agenda KNMP bertindak selaku bagian dari agenda strategis nasional pada delapan kelompok program Presiden yang disusun demi memantapkan kedaulatan pangan sekaligus mendongkrak pemerataan kesejahteraan di area pesisir.

"Pemerintah ingin nelayan tidak lagi hanya menjual hasil tangkapan, tetapi menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar. KNMP menjadi pusat produksi, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi hasil perikanan, sehingga nilai tambahnya dinikmati masyarakat pesisir," ujar dari sumbernya dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Pada tingkat nasional, jajaran pemerintah mematok pendirian 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih sampai tahun 2029.

Dalam fase permulaan, sekitar 1.369 titik area diproyeksikan tuntas dibangun pada 2026.

Hingga kini, pengerjaan tahap awal sudah rampung secara keseluruhan di 65 lokasi yang tersebar pada 25 provinsi.

Di sisi lain, konstruksi tahap kedua sedang berjalan di 35 area dan dijadwalkan rampung secara bertahap pada Agustus 2026.

Untuk wilayah Sulawesi Selatan, pihak pemerintah sudah mendirikan enam titik KNMP yang bertempat di Kabupaten Takalar, Bone, Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, dan Kota Makassar.

Satu di antara lokasi yang telah siap beroperasi yakni KNMP Untia di Kota Makassar.

Area ini ditata selaku pusat kegiatan ekonomi nelayan terintegrasi yang disokong 193 nelayan aktif beserta 101 unit perahu penangkap.

Dalam rentang setahun, area tersebut sanggup memproduksi kurang lebih 450 ton hasil laut, yang didominasi oleh jenis ikan kembung, layang, tembang, hingga kepiting.

KNMP Untia turut disokong bermacam sarana penunjang, mulai dari dermaga, bengkel dan fasilitas perbaikan kapal, toko logistik, pabrik pembuat es, ruang pendingin, hingga area jajanan kuliner.

Ketersediaan seluruh sarana ini ditujukan guna memangkas pengeluaran operasional nelayan, merawat kondisi kualitas tangkapan, serta memperlebar jangkuan pemasaran.

Dampak positif dari pembangunan ini sudah mulai dinikmati warga lokal.

Kehadiran pabrik pembuat es memudahkan nelayan mendapatkan pasokan es sebelum berangkat berlayar sehingga mutu ikan tidak menurun dan nilai jualnya merangkak naik.

Pada saat bersamaan, sarana ruang pendingin memungkinkan stok tangkapan disimpan dalam durasi lama dan didistribusikan ke beragam wilayah menggunakan armada berpendingin.

Berdasarkan paparan dari sumbernya, daya tampung dan alur distribusi ini turut membuka peluang agar komoditas laut milik warga bisa terserap untuk bermacam hajat nasional, termasuk menyokong ketersediaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kalau rantai pasoknya kuat, nelayan untung, masyarakat mendapat ikan yang berkualitas, dan kebutuhan pangan nasional juga terpenuhi. Inilah yang ingin dibangun pemerintah melalui Kampung Nelayan Merah Putih," tegasnya.

Pihak pemerintah berharap KNMP Untia sanggup menjadi percontohan penataan wilayah pantai yang tak sekadar menyediakan fasilitas fisik, namun juga menciptakan tatanan ekonomi yang sanggup mengatrol pemasukan nelayan, memicu pembentukan lapangan kerja, serta memantapkan ketahanan pangan nasional dari sektor bahari.

Tags

Terkini