JAKARTA - Sejumlah penjual bendera beserta hiasan kemerdekaan mengungkapkan bahwa tingkat pembeli masih tergolong sepi mendekati hari peringatan ulang tahun kemerdekaan Tanah Air.
Padahal, momen penghujung Juli hingga kurun awal Agustus biasanya merupakan periode puncak ketika para pembeli mulai memadati lokasi perbelanjaan.
Seorang pedagang pernak-pernik musiman dari sumbernya menuturkan situasi musiman kali ini tidak serupa dengan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut pengamatannya, pada rentang pekan yang sama kawasan tersebut biasanya sudah dipenuhi oleh deretan calon pembeli.
"Biasanya akhir Juli sampai tanggal 10 Agustus lah, itu paling banyak pembeli. Jadi seharusnya hari ini juga sudah ramai. Tapi kenyataannya masih sepi, hari ini saja belum ada penglaris," kata dari sumbernya saat ditemui detikcom, Senin (3/8/2026).
Kendati baru pada tahun ini ia menjajakan bendera serta dekorasi kemerdekaan di kawasan tersebut, dari sumbernya menyebut setiap tahun ia mengambil barang jualan dari pimpinannya yang mendirikan lapak di area tersebut.
Di luar momentum perayaan kemerdekaan, dari sumbernya sehari-hari berprofesi sebagai penjaga toko di lingkungan tersebut.
Oleh sebab itu, ia mengaku amat memahami kondisi yang dihadapi para penjual bendera di sekitar area itu.
"Biasanya saya memang jualan di Pamulang. Tapi kan yang jualan di sini juga kenalan kami-kami juga kan, orang-orang Cirebon, jadi tahu juga kondisinya gimana di sini," ungkap dari sumbernya.
Dari sumbernya menceritakan kuantitas konsumen yang datang mencari bendera dan barang dekoratif tahun ini turun tajam dibandingkan tahun-tahun terdahulu.
Selain sepinya pembeli, banyak warga yang datang menawar harga barang hingga menyentuh harga pokok modal, yang menyebabkan persentase keuntungan pedagang kian mengecil.
"Tadi saja ada yang tawar beli bendera backdrop Rp 65.000 per meter, padahal kami modal Rp 75.000. Kalau saya terima ya rugi Rp 10.000 per meter. Padahal sekarang kami juga nggak cari untung banyak, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 20.000 kami kasih," jelas dari sumbernya.
"Beda sama dulu di Pamulang, kami modal Rp 75.000 bisa jual Rp 200.000. Soalnya di sana kan nggak banyak yang jual, kalau di sini kan jatuhnya sudah grosir, bos-bos pada ngumpul di sini jadi harganya nggak bisa naik tinggi," sambungnya.
Di samping hal tersebut, dari sumbernya menuturkan bahwa berniaga bendera Merah Putih tidak selalu mendatangkan margin keuntungan.
Ada waktunya penerimaan kas tidak mencapai target hingga menyebabkan hasil akhir menjadi defisit.
"Pernah saya juga minus sama bos, saya pernah. Saya pernah minus Rp 1,2 juta pas jualan sebulan itu. Bukan pas jualan tahun lalu. Tahun lalu saya masih dapat untung, tahun kemarinnya lagi juga masih dapat untung. Jadi tiga tahun yang lalu lah ya, pas 2023," paparnya.
"Tahun lalu bukan di sini jualannya, di Pamulang, saya untung Rp 2 jutaan. Sebelum itu saya untungnya 10 hari dagang, dapat Rp 5 jutaan untungnya," kata dari sumbernya lagi.
Menurut perkataan dari sumbernya, kondisi defisit atau rugi ini juga sempat dialami pedagang lain yang dikenalnya.
Malahan, terdapat kawan seprofesinya yang mesti pulang ke daerah asal dengan menyisa utang akibat perolehan dagang tidak cukup menutup modal.
"Ya sehari jualan dapat Rp 30.000, Rp 50.000, kan habis buat makan tiap-tiap hari. Sampai minus Rp 1 juta. Dia dari kampung ke Jakarta cari duit, di sini malah rugi, malah punya utang sama bos Rp 1 juta," ujarnya.
Seirama dengan hal itu, penjual atribut kemerdekaan lainnya dari sumbernya mengungkapkan bahwasanya perolehan bersih dari hasil jualan bendera terus menyusut dari periode ke periode.
"Kalau melihat keuntungan ya, bukan bicara modal dan sebagainya, ya palingnya sekitar ada yang dapat Rp 2 juta, ada yang dapat Rp 1,5 juta, kadang ada yang dapat tipis cuma Rp 500.000. Pedagang di Jatinegara, bendera, kan orang-orang kami semua," kata dari sumbernya.
"Itu sudah bukan kecil lagi, memang sudah sangat sedikit. Sekarang kan jualan bendera juga digempur online juga, padahal kalau di online kan mereka nggak bisa lihat ukuran atau bahan kan, ya beda harganya, kami yang murah kayak online juga jual, tapi kan beda kualitasnya, mereka maunya yang bagus tapi harga online," ucapnya lagi.