JAKARTA - Para pedagang bendera dan ornamen kemerdekaan mengaku transaksi penjualan masih tampak sepi mendekati momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Padahal, rentang waktu akhir Juli hingga permulaan Agustus lazimnya merupakan saat-saat konsumen mulai ramai berdatangan.
Seorang penjual bendera Merah Putih musiman dari sumbernya menyampaikan bahwa situasi tahun ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Menurut pemaparannya, pada kurun waktu serupa biasanya tempat berjualan di wilayah tersebut sudah dipadati pembeli.
"Biasanya akhir Juli sampai tanggal 10 Agustus lah, itu paling banyak pembeli. Jadi seharusnya hari ini juga sudah ramai. Tapi kenyataannya masih sepi, hari ini saja belum ada penglaris," kata dari sumbernya saat ditemui detikcom, Senin (3/8/2026).
Walaupun baru tahun ini menjajakan bendera serta hiasan bernuansa kemerdekaan di kawasan tersebut, dari sumbernya mengaku setiap tahun mengambil barang dagangan dari pemilik modal yang mengoperasikan lapak di lokasi itu.
Di luar musim pendaftaran dagang bendera, dari sumbernya sehari-hari beraktivitas sebagai penjaga toko di sekitar area itu.
Lantaran hal tersebut, ia mengaku cukup paham mengenai dinamika yang dialami para pedagang bendera di sekitarnya.
"Biasanya saya memang jualan di Pamulang. Tapi kan yang jualan di sini juga kenalan kami-kami juga kan, orang-orang Cirebon, jadi tahu juga kondisinya gimana di sini," ungkap dari sumbernya.
Dari sumbernya menuturkan jumlah pelanggan yang datang berburu bendera serta pernak-pernik kemerdekaan tahun ini jauh menyusut drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tidak sebatas itu, banyak calon konsumen juga mengajukan penawaran harga hingga mendekati modal bersih, sehingga margin keuntungan yang didapat pedagang menjadi sangat tipis.
"Tadi saja ada yang tawar beli bendera backdrop Rp 65.000 per meter, padahal kami modal Rp 75.000. Kalau saya terima ya rugi Rp 10.000 per meter. Padahal sekarang kami juga nggak cari untung banyak, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 20.000 kami kasih," jelas dari sumbernya.
"Beda sama dulu di Pamulang, kami modal Rp 75.000 bisa jual Rp 200.000. Soalnya di sana kan nggak banyak yang jual, kalau di sini kan jatuhnya sudah grosir, bos-bos pada ngumpul di sini jadi harganya nggak bisa naik tinggi," sambungnya.
Di samping itu, dari sumbernya mengakui bisnis berjualan bendera Merah Putih tidak selamanya menghasilkan dividen manis.
Terdapat saat-saat ketika perolehan omzet tidak sesuai proyeksi hingga memicu kerugian finansial.
"Pernah saya juga minus sama bos, saya pernah. Saya pernah minus Rp 1,2 juta pas jualan sebulan itu. Bukan pas jualan tahun lalu. Tahun lalu saya masih dapat untung, tahun kemarinnya lagi juga masih dapat untung. Jadi tiga tahun yang lalu lah ya, pas 2023," paparnya.
"Tahun lalu bukan di sini jualannya, di Pamulang, saya untung Rp 2 jutaan. Sebelum itu saya untungnya 10 hari dagang, dapat Rp 5 jutaan untungnya," kata dari sumbernya lagi.
Berdasarkan keterangan dari sumbernya, riwayat rugi tersebut juga pernah dirasakan oleh rekan sejawat yang dikenalinya.
Bahkan, ada rekannya yang terpaksa pulang kampung dengan menanggung beban utang lantaran hasil penjualan gagal menutup estimasi modal awal.
"Ya sehari jualan dapat Rp 30.000, Rp 50.000, kan habis buat makan tiap-tiap hari. Sampai minus Rp 1 juta. Dia dari kampung ke Jakarta cari duit, di sini malah rugi, malah punya utang sama bos Rp 1 juta," ujarnya.
Senada dengan hal itu, pedagang bendera dan pernak-pernik HUT RI lainnya dari sumbernya menuturkan bahwasanya keuntungan menjual atribut kemerdekaan kian merosot dari tahun ke tahun.
"Kalau melihat keuntungan ya, bukan bicara modal dan sebagainya, ya palingnya sekitar ada yang dapat Rp 2 juta, ada yang dapat Rp 1,5 juta, kadang ada yang dapat tipis cuma Rp 500.000. Pedagang di Jatinegara, bendera, kan orang-orang kami semua," kata dari sumbernya.
"Itu sudah bukan kecil lagi, memang sudah sangat sedikit. Sekarang kan jualan bendera juga digempur online juga, padahal kalau di online kan mereka nggak bisa lihat ukuran atau bahan kan, ya beda harganya, kami yang murah kayak online juga jual, tapi kan beda kualitasnya, mereka maunya yang bagus tapi harga online," ucapnya lagi.