Prediksi Rupiah Sulit Menguat Akibat Kebijakan The Fed dan Konflik

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:14:44 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan sulit keluar dari tren pelemahannya, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan sejumlah tantangan dalam negeri.

Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah Rp 38 atau 0,21 persen menjadi Rp 18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) justru menguat tipis Rp 9 atau 0,05 persen ke level Rp 18.078 per dolar AS.

Meski kurs JISDOR menguat, kenaikan tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah yang terjadi sepanjang sepekan terakhir.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Eskalasi konflik di kawasan tersebut mengancam kelancaran pasokan energi global akibat penutupan jalur perairan strategis dan blokade laut.

Di sisi lain, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya juga semakin memperkuat posisi dollar AS.

Sebagai informasi, The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen.

Meski demikian, pasar menilai sinyal kenaikan suku bunga masih cukup kuat sehingga prospek pelonggaran kebijakan moneter belum sepenuhnya pasti.

Keputusan itu diumumkan The Fed pada Rabu (29/7/2026) waktu AS atau Kamis (30/7/2026) dini hari WIB, usai menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.

Ibrahim menyoroti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyebut kondisi pasar tenaga kerja yang tetap ketat telah membantu pembuat kebijakan.

Ia juga menegaskan komite siap mengambil langkah apabila inflasi kembali meningkat.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang diperkirakan melambat ke kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen.

Ibrahim mencatat perlambatan tersebut dipengaruhi oleh tingginya biaya produksi, kebijakan moneter yang masih ketat, serta ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.

Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 yang berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen juga masih berada di bawah target pemerintah.

Sentimen domestik tersebut, lanjut Ibrahim, turut diperberat oleh ketidakpastian terkait pergantian kepemimpinan di bank sentral.

“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis malam (30/7/2026) dari Sumbernya.

Lebih lanjut, ia mengatakan pelaku pasar kini bersiap mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting pada pekan depan yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan rupiah.

Data inflasi Juli 2026, posisi cadangan devisa, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), hingga produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 akan menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam menentukan arah investasi.

Untuk perdagangan Jumat (31/7/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.110 hingga Rp 18.160 per dolar AS.

Terkini