JAKARTA - Banderol kebutuhan pokok seperti cabai rawit merah menyentuh Rp 54.500 per kilogram (kg), dan cabai merah keriting tercatat Rp 46.250 per kg pada Minggu pagi (26/7/2026), pukul 09.46 WIB dari Sumbernya.
Pada saat yang sama, harga telur ayam ras sebesar Rp 29.600 per kg dari Sumbernya.
Begitulah harga bahan pokok yang ditampilkan lewat Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BEI), Minggu (26/7/2026).
Di samping itu, banderol bawang merah sebesar Rp 42.150 per kg dan banderol bawang putih sebesar Rp 42.700 per kg pada tingkat pedagang eceran secara nasional lainnya dari Sumbernya.
Sementara itu, harga cabai merah besar menyentuh Rp 48.150 per kg dan cabai rawit hijau sebesar Rp 51.850 per kg dari Sumbernya.
Di sisi lain, beras mutu bawah I pada harga Rp 14.750 per kg, beras mutu bawah II sebesar Rp 14.550 per kg dari Sumbernya.
Sedangkan beras mutu medium I senilai Rp 16.400 per kg, dan beras mutu medium II pada harga Rp 16.200 per kg dari Sumbernya.
Selanjutnya, beras mutu super I pada harga Rp 17.700 per kg, dan beras mutu super II senilai Rp 17.150 per kg dari Sumbernya.
Daging ayam ras segar sebesar Rp 39.100 per kg, daging sapi mutu I senilai Rp 150.900 per kg, daging sapi mutu II pada harga Rp 141.900 per kg dari Sumbernya.
Banderol barang kebutuhan lainnya yakni gula pasir mutu premium tercatat Rp 20.300 per kg, gula pasir lokal sebesar Rp 19.100 per kg dari Sumbernya.
Kemudian minyak goreng curah pada harga Rp 20.450 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I pada harga Rp 24.300 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II pada harga Rp 23.400 per liter dari Sumbernya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memberitahukan inflasi Indonesia pada Juni 2026 menyentuh 3,34 persen dari Sumbernya.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan tekanan inflasi Indonesia Juni 2026 bakal mulai mereda dalam kurun beberapa bulan mendatang dari Sumbernya.
Keyakinan tersebut didasari pada lonjakan harga yang saat ini lebih banyak dipicu oleh komoditas yang bertipe fluktuatif, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan beberapa bahan pangan, bukan lantaran lonjakan permintaan masyarakat dari Sumbernya.
Menurut Purbaya, harga barang yang bertipe musiman pada akhirnya bakal kembali normal dari Sumbernya.
Terlebih lagi, harga minyak dunia saat ini mulai mengalami penurunan yang diperkirakan bakal disusul oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri dari Sumbernya.
"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya dikutip Kamis (2/7/2026).
Ia pun menegaskan, kondisi inflasi saat ini belum mencerminkan adanya permintaan masyarakat yang kelewat tinggi dari Sumbernya.
Hal tersebut tampak dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada pada taraf relatif stabil dari Sumbernya.
"Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya.
Purbaya menilai, stabilnya inflasi inti menjadi penanda bahwa lonjakan harga yang terjadi saat ini sekadar bersifat sementara dan tidak bersumber dari sisi permintaan dari Sumbernya.
"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," kata Purbaya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memberitahukan inflasi Indonesia pada Juni 2026 menyentuh 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Sumbernya.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen dari Sumbernya.
Sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi 2,29 persen dan memberikan sumbangsih 0,28 persen terhadap inflasi nasional dari Sumbernya.
Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama sektor tersebut dengan sumbangsih 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen dari Sumbernya.