JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa pagi (7/7/2026). Berdasarkan data RTI Business hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG naik 10,61 poin atau 0,18% ke level 5.926,678.
IHSG mengawali perdagangan pada level 5.933,574 dan sempat meraih titik tertinggi di posisi 5.943,538. Adapun level terendah yang sempat disentuh berada di angka 5.925,789.
Tercatat ada 269 saham menguat, 121 saham melemah, serta 238 saham bergerak stagnan saat perdagangan dimulai. Transaksi perdagangan mencapai volume 551,798 juta saham dengan nilai Rp322,195 miliar melalui frekuensi sebanyak 50.593 kali.
Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan pasar ini bertengger di angka Rp10.403,494 triliun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pergerakan teknikal IHSG sukses rebound serta membentuk pola three advancing soldiers candlestick pattern dari “wave (b)”. Indikator Stochastics K_D memperlihatkan sinyal negatif dengan volume yang merosot, tetapi RSI berpeluang menciptakan pola golden cross.
"Walaupun IHSG berhasil rebound, investor asing masih cenderung selektif. Keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada apakah terjadi pembalikan menjadi net buy asing dalam beberapa hari ke depan," kata dia dalam analisanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Nafan memaparkan bahwa bursa saham global berakhir menguat pada pekan lalu, di saat dolar AS melemah dan komoditas emas bergerak naik. Situasi risk appetite yang semakin kondusif berpeluang membawa dampak positif bagi pasar saham Asia di awal pekan.
Pelaku pasar pun ikut memantau pergerakan kurs rupiah yang mulai menguat 0,18% menuju level Rp17.963 per dolar AS. Kondisi rupiah yang stabil dinilai menjadi faktor utama untuk membendung foreign outflow.
IHSG dinilai menjadi target investasi yang sangat memikat untuk investor institusi domestik dalam mengumpulkan saham-saham blue-chip. Hal itu didasari oleh rasio P/E IHSG saat ini yang menyentuh 9,35x, atau lebih rendah dibanding posisi terbawah waktu pandemi COVID-19 yang tercatat sebesar 9,48x.
Di lain pihak, pemerintah juga secara resmi mulai membuka masa penawaran Obligasi Negara Ritel seri ORI030 pada Senin ini. Instrumen investasi tersebut mematok kupon fixed rate yang diperkirakan sangat kompetitif, seiring dengan BI Rate yang bertahan di angka 5,75%.
"Kehadiran ORI030 berpotensi menyerap sebagian likuiditas dari investor ritel yang cenderung defensif di tengah tingginya volatilitas pasar saham saat ini," ungkap dia sebagaimana dilansir dari sumber berita.