JAKARTA - Saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar yang masuk dalam indeks LQ45 kembali menarik perhatian para pelaku pasar setelah terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun 2026. Momentum ini memicu pertanyaan apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai mengumpulkan saham-saham yang masuk kategori saham unggulan tersebut. Saham unggulan atau biasa disebut blue chip merupakan saham papan atas yang berpengalaman di bursa serta ditopang oleh fundamental yang kokoh. Saham jenis ini biasanya memiliki likuiditas yang tinggi serta nilai kapitalisasi pasar yang besar, mencapai nilai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.
Bila melihat data historis, sejumlah saham blue chip di Bursa Efek Indonesia saat ini diperdagangkan pada level valuasi yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pergerakan dalam beberapa tahun terakhir. Walaupun demikian, rendahnya nilai valuasi ini tidak serta-merta menjadi petunjuk mutlak bahwa saham tersebut sudah sangat aman dan layak untuk langsung dibeli.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat bahwa penurunan tingkat valuasi yang terjadi saat ini, khususnya pada sektor perbankan, memang sudah tergolong sangat dalam. Hal tersebut dapat dicerminkan dari rasio price to book value yang posisinya berada jauh di bawah rata-rata historisnya. Namun, penurunan nilai valuasi tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan seluruh risiko fundamental yang membayangi sektor industri perbankan ke depan.
"Valuasi yang turun saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko kondisi ekonomi yang dihadapi sektor perbankan. Ke depan, kondisi ekonomi masih berpotensi menekan pertumbuhan kredit, memicu kontraksi net interest margin (NIM), meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL), serta mendorong kenaikan biaya provisi," ujar Harry.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memaparkan bahwa secara umum tingkat valuasi saham blue chip saat ini sudah jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan rata-rata pergerakan selama lima tahun terakhir.
Beberapa contoh perbandingannya antara lain:
BBCA diperdagangkan pada PER sekitar 11,9 kali, dibanding rata-rata historis 17 kali.
BBRI memiliki PER sekitar 6,9 kali, lebih rendah dari rata-rata historis 9,9 kali.
BMRI diperdagangkan pada PER sekitar 6,1 kali, dibanding rata-rata historis 8,2 kali.
KLBF memiliki PER sekitar 9,6 kali, jauh di bawah rata-rata historis 15,6 kali.
CPIN diperdagangkan pada PER sekitar 7,8 kali, sedangkan rata-rata historisnya 15,1 kali.
ICBP memiliki PER sekitar 8,7 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis 13,5 kali.
Meskipun kondisinya demikian, murahnya valuasi tersebut dinilai tidak hanya disebabkan oleh penurunan harga saham semata, melainkan turut dipengaruhi oleh beragam faktor sentimen eksternal. Di sepanjang paruh pertama tahun 2026, kondisi pasar modal masih terus dibayangi oleh ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, tensi geopolitik, aksi jual atau keluarnya dana investor asing, ketidakpastian arah kebijakan dari pemerintah, hingga ekspektasi pertumbuhan laba bersih emiten yang cenderung lebih melandai. Kondisi tersebut membuat para pemodal masih menerapkan premi risiko yang lebih tinggi, sehingga mereka belum sepenuhnya percaya diri untuk masuk meskipun valuasi saham terlihat murah.
Terkait dengan sektor yang dinilai potensial, beberapa sektor dinilai mulai menawarkan peluang investasi yang cukup menarik, antara lain:
Sektor perbankan
BBCA
BBRI
BMRI
BBNI
Sektor perbankan dinilai masih memiliki fundamental yang sangat solid dengan kualitas aset yang tetap terjaga serta tingkat profitabilitas yang bertahan tinggi.
Sektor consumer staples
ICBP
INDF
KLBF
Sektor poultry
CPIN
JPFA
Sektor telekomunikasi
TLKM
Sebaliknya, beberapa saham dinilai sudah tidak lagi murah jika diukur berdasarkan proyeksi pertumbuhan kinerja laba bersihnya.
Di antaranya:
MAPI, yang PER-nya sudah berada di atas rata-rata historis.
ITMG, yang diperdagangkan di atas valuasi historis meski masih ditopang dividen tinggi.
AMMN.
CUAN.
Serta sejumlah saham kategori growth stocks lainnya yang pergerakannya sangat mengandalkan ekspektasi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memberikan catatan agar para pemodal tidak hanya bertumpu pada indikator PER saja dalam membedah nilai wajar sebuah saham. Menurut pandangannya, indikator yang jauh lebih krusial untuk mengukur sektor perbankan adalah Price to Book Value serta Return on Equity. Sedangkan untuk emiten di luar sektor keuangan, para pelaku pasar disarankan untuk mencermati indikator EV/EBITDA, pertumbuhan laba, beserta free cash flow. Ketiga indikator non-keuangan tersebut dinilai mampu menyajikan proyeksi nilai valuasi yang jauh lebih presisi dibandingkan dengan hanya mengacu pada PER saja.
Elandry memberikan rekomendasi untuk beberapa saham pilihan berikut ini lengkap beserta target harganya:
BBCA: target Rp9.000.
BBRI: target Rp4.800.
BMRI: target Rp5.800.
TLKM: target Rp3.300.
ASII: target Rp5.800.
Walaupun valuasi dari sejumlah saham yang masuk dalam indeks LQ45 kini sudah jauh lebih murah dari rata-rata pergerakan historisnya, para analis tetap mengingatkan pelaku pasar untuk selalu memperhatikan prospek fundamental, arah pertumbuhan laba emiten, serta dinamika makroekonomi sebelum mengeksekusi keputusan investasi. Langkah tersebut diperlukan agar keputusan dalam membeli saham tidak sekadar didasarkan pada harga atau valuasi yang tampak murah, melainkan juga tetap mempertimbangkan kualitas kelangsungan bisnis serta potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.