Ciputra Development Sebut Insentif PPN DTP Belum Efektif pada 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 09:19:02 WIB
Ilustrasi ciputra development (sumber foto: NET)

JAKARTA – PT Ciputra Development Tbk atau CTRA menganggap perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP belum berjalan efektif dalam mendongkrak angka penjualan sepanjang tahun ini. Walaupun stimulus fiskal tersebut menawarkan potongan harga pembelian properti hingga 11 persen, pihak manajemen melihat minat beli pasar terhadap produk real estat masih belum terstimulasi secara besar-besaran.

“Hal ini tecermin dari presales Perseroan yang selama 3 bulan pertama tahun 2026 ini mengalami penurunan 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan insentif tersebut belum dapat mengimbangi pelemahan permintaan di pasar properti,” tulis manajemen CTRA dalam keterbukaan informasi.

Melihat situasi tersebut, penurunan penjualan yang sedang terjadi dipandang sebagai bagian dari siklus penurunan atau down cycle yang wajar di industri properti tanah air. Masa konsolidasi ini bergulir setelah sektor real estate melewati periode pertumbuhan yang sangat kuat atau booming period sepanjang tahun 2022 hingga 2024.

“Permintaan properti lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental, di antaranya tingkat suku bunga KPR, daya beli masyarakat dan ketersediaan pembiayaan dari perbankan, disamping pengetatan likuiditas [liquidity crunch] yang dapat menekan permintaan secara tidak langsung,” imbuhnya.

Walaupun keampuhannya dalam memicu penjualan belum optimal saat ini, pihak perusahaan berharap pemerintah tetap meneruskan kebijakan PPN DTP demi menjaga keterjangkauan harga rumah dalam jangka panjang.

"Perseroan juga berharap pemerintah tetap melanjutkan kebijakan PPN DTP, mengingat kebijakan tersebut dapat menjaga keterjangkauan harga rumah mendukung permintaan sektor properti,” pungkasnya.

Sebelumnya, manajemen memproyeksikan pendapatan beserta laba bersih akan mengalami penurunan hingga berkisar 10 persen pada tahun 2026 ini bila dibandingkan dengan perolehan tahun lalu. Pihak korporasi tetap mempertahankan target marketing sales di angka Rp9,5 triliun untuk tahun ini, meskipun pendapatan dan laba bersih diprediksi terkoreksi hingga 10 persen dari tahun sebelumnya.

Penurunan ini dijelaskan bukan karena adanya pemburukan pada performa operasional saat ini, melainkan imbas dari melemahnya angka penjualan sepanjang tahun 2025 lalu.

"Di perusahaan properti, pendapatan baru diakui ketika pembangunan selesai dan unit diserahterimakan. Jadi ketika pre-sales tahun 2025 turun, dampaknya memang baru terlihat pada pendapatan tahun 2026," ujarnya.

Terkini