JAKARTA - Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat mencatat lonjakan besar pada penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada Juni 2026. Dalam periode satu bulan tersebut, sebanyak 26.844 unit rumah subsidi sukses disalurkan kepada masyarakat. Capaian ini menempatkan Juni sebagai bulan dengan angka realisasi penyaluran paling tinggi di sepanjang semester pertama tahun 2026.
Prestasi pada bulan Juni tersebut memberikan kontribusi sebesar 53,21 persen terhadap total penyaluran FLPP pada triwulan kedua tahun 2026 yang secara keseluruhan menyentuh angka 50.447 unit. Jika dihitung secara akumulatif hingga tanggal 30 Juni 2026, total KPR FLPP yang sudah disalurkan mencapai 91.531 unit rumah dengan nilai pendanaan menyentuh Rp 11,37 triliun. Jumlah total tersebut terbagi menjadi 91.522 unit untuk kategori rumah tapak dan sembilan unit untuk kategori rumah susun.
Lonjakan tajam yang terjadi pada bulan Juni ini menjadi faktor pendorong utama bagi pertumbuhan realisasi FLPP pada kuartal kedua tahun ini. Penyaluran FLPP yang meningkat pesat pada Juni 2026 sukses memicu pertumbuhan pada triwulan kedua sebesar 22,79 persen jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal pertama. Angka realisasi dana FLPP pada kuartal pertama tercatat sebanyak 41.084 unit, sedangkan pada kuartal kedua melesat menjadi 50.447 unit, yang memperlihatkan adanya percepatan penyaluran menjelang akhir semester pertama tahun 2026.
Pada kuartal pertama tahun 2026, pergerakan penyaluran FLPP menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang positif dengan kenaikan mencapai 98,6 persen pada bulan Februari dan berlanjut sebesar 32,6 persen pada bulan Maret. Bulan Maret menjadi penyumbang terbesar pada triwulan pertama dengan total realisasi 19.250 unit atau tumbuh sebesar 46,9 persen. Memasuki kuartal kedua, volume penyaluran sempat mengalami penurunan di bulan Mei jika dibandingkan dengan bulan April, sebelum akhirnya kembali melonjak tajam pada bulan Juni hingga mencetak rekor tertinggi di semester pertama.
Proses penyaluran FLPP di sepanjang tahun 2026 ini diakui menghadapi sejumlah tantangan berat, terutama yang berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) serta Lahan Baku Sawah (LBS). Meski demikian, jajaran pemerintah telah merumuskan solusi strategis lewat penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Dalam Negeri bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional guna mempercepat Program 3 Juta Rumah. Regulasi baru ini memuat pedoman jelas mengenai perlindungan Lahan Baku Sawah serta penyelarasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah demi mendorong kelancaran penyediaan perumahan subsidi.
Selain langkah regulasi tersebut, implementasi kebijakan terbaru terkait Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang diterapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan sejak 13 April 2026 juga dinilai memberikan dampak positif. Kebijakan ini mempermudah masyarakat luas dalam mengakses KPR subsidi, termasuk memberikan kelonggaran bagi calon nasabah yang memiliki catatan riwayat kredit di bawah Rp 1 juta untuk tetap bisa mengajukan permohonan. Aturan ini sekaligus mempertegas bahwa data dari SLIK tidak lagi menjadi satu-satunya faktor mutlak yang menentukan disetujui atau ditolaknya pengajuan kredit perumahan.
Menghadapi paruh kedua tahun 2026, terdapat optimisme yang besar bahwa tren penyaluran FLPP akan terus bergerak naik. Berdasarkan data proyeksi yang telah disusun, target capaian realisasi ditetapkan bertahap untuk bulan-bulan ke depan:
Juli sebanyak 31.270 unit
Agustus sebanyak 35.576 unit
September sebanyak 41.576 unit
Oktober sebanyak 47.576 unit
November sebanyak 49.575 unit
Desember sebanyak 52.896 unit
Guna mengejar target akumulatif sebanyak 350.000 unit rumah subsidi hingga penghujung tahun 2026, serangkaian strategi percepatan kini tengah disiapkan. Dari aspek permintaan, penguatan kerja sama dilakukan secara intensif dengan berbagai kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, komunitas, organisasi profesi, hingga serikat pekerja. Langkah sosialisasi, kegiatan promosi berbasis digital, serta agenda kampanye terpadu bersama pihak perbankan dan perusahaan pengembang juga terus dijalankan secara masif.
Sementara dari aspek pasokan, koordinasi dengan asosiasi pengembang terus ditingkatkan di samping memperkuat keselarasan data antara tingkat kebutuhan masyarakat dan ketersediaan unit hunian di lapangan. Sinergi ini ditujukan agar proses distribusi rumah subsidi dapat berjalan lebih cepat sekaligus tepat sasaran. Melalui berbagai program percepatan ini, diharapkan masyarakat berpenghasilan rendah dapat memperoleh akses yang lebih luas untuk memiliki tempat tinggal yang layak, terjangkau, serta memiliki kualitas yang baik. Tercatat hingga tanggal 1 Juli 2026, realisasi total penyaluran dana FLPP telah menyentuh angka 93.339 unit dengan nilai total pembiayaan mencapai Rp 11,60 triliun.