Data Tenaga Kerja AS Melemah Memicu Harga Emas Dunia Naik 2 Persen

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:12:23 WIB
Ilustrasi emas (sumber foto: NET)

NEW YORK - Nilai dagang logam mulia global mengalami lonjakan komoditas di atas 2 persen pada penutupan pasar Rabu (1/7/2026) waktu setempat atau Kamis (2/7/2026) pagi WIB. Kondisi ini digerakkan oleh laporan sektor ketenagakerjaan swasta Amerika Serikat (AS) yang hasilnya berada di bawah ekspektasi pasar, ditambah dengan pernyataan pimpinan bank sentral yang memberikan indikasi bahwa tekanan inflasi global mulai berkurang.

Untuk nilai emas spot tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,6 persen menuju angka 4.071,04 dollar AS per ons, setelah sempat merosot ke titik paling rendah sejak bulan November pada sesi perdagangan sebelumnya. Di waktu yang sama, perdagangan kontrak emas berjangka AS guna masa pengiriman Agustus menguat 1,1 persen ke posisi 4.082,40 dollar AS per ons.

"Emas mengalami kenaikan yang cukup baik. Data ADP yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, kemudian komentar Ketua The Fed Kevin Warsh bahwa inflasi mulai mereda membuat imbal hasil obligasi turun dan mengangkat pasar emas yang sebelumnya lesu," ujar Pedagang logam independen, Tai Wong.

"Saya melihat emas setidaknya telah membentuk dasar untuk jangka pendek, kecuali jika besok data nonfarm payrolls AS keluar sangat kuat," imbuhnya.

Melalui laporan berkala ketenagakerjaan nasional ADP, penyerapan tenaga kerja sektor swasta di AS hanya bertambah sebanyak 98.000 pada periode Juni, angka ini lebih kecil bila dikomparasikan dengan pertumbuhan bulan Mei yang menyentuh 122.000. Catatan pencapaian ini juga berada di bawah proyeksi dari para pakar ekonomi yang memperkirakan adanya 118.000 lapangan kerja baru.

Di sudut pandang lain, Kevin Warsh menyampaikan bahwa prediksi beserta risiko inflasi telah merosot dalam kurun waktu beberapa minggu belakangan ini. Kendati demikian, pihak bank sentral dipastikan tetap memegang komitmen penuh untuk menekan laju inflasi hingga menyentuh target ideal di angka 2 persen.

Komoditas emas selama ini diposisikan sebagai instrumen pelindung nilai (safe haven) yang aman dari pengaruh inflasi, namun pergerakan naik pada suku bunga acuan dapat mengikis daya tarik logam mulia karena sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil secara langsung. Berdasarkan perhitungan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar memproyeksikan potensi kenaikan suku bunga bank sentral pada September mendatang berada di kisaran 65 persen.

Melihat dari sektor geopolitik, pihak AS bersama Iran dilaporkan telah melakukan pertemuan teknis di Doha pada Rabu untuk mendiskusikan kelancaran jalur transportasi laut di kawasan Selat Hormuz sekaligus mengupayakan kesepakatan penghentian kontak senjata yang lebih permanen.

Beberapa jenis logam mulia lainnya pun ikut terpantau bergerak naik ke atas, dengan rincian pergerakan harga sebagai berikut:

Harga perak spot naik 2,5 persen menjadi 60,01 dollar AS per ons Palladium menguat 1,2 persen menjadi 1.218,75 dollar AS per ons Platinum naik 2,2 persen menjadi 1.584,75 dollar AS per ons setelah sempat berada di level terendah sejak November

Terkini