JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat pada pembukaan perdagangan pagi hari ini. Rupiah tercatat berada pada posisi Rp17.963 per USD, mengalami kenaikan sebesar 32 poin atau tumbuh sekitar 0,18 persen jika dibandingkan dengan posisi Rp17.995 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya. Di sisi lain, pergerakan mata uang domestik ini diprediksi akan berjalan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.990 per USD hingga Rp18.050 per USD pada sepanjang hari ini.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.990 per USD hingga Rp18.050 per USD," jelasnya.
Faktor pergerakan kurs ini turut dipengaruhi oleh perkembangan positif dari dialog tidak langsung antara Iran dan AS terkait situasi di Selat Hormuz. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari di Doha tersebut membahas mengenai arus lalu lintas maritim serta pencairan dana. Meskipun kondisi jalur pelayaran mulai membaik secara bertahap, kedua belah pihak sempat terlibat aksi saling serang menyusul insiden yang menimpa kapal kargo sebelumnya. Pihak Iran juga dilaporkan tetap berkomitmen untuk mengamankan pengakuan internasional atas kendali wilayah selat itu. Teheran pun berencana memberlakukan bea masuk pengiriman mulai pertengahan Agustus mendatang setelah berakhirnya masa bebas bea.
Arus kapal tanker kini dilaporkan mulai normal kembali, di mana volume aliran minyak dinilai sudah menyamai kondisi sebelum terjadinya konflik. Sementara itu, pelaku pasar memproyeksikan adanya peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 67 persen pada bulan September nanti. Di sektor komoditas, emas sebagai aset tanpa imbal hasil biasanya mencatatkan kinerja positif dalam tren suku bunga rendah karena dapat menekan biaya kepemilikan logam mulia tersebut.
Dari sektor makroekonomi, data ketenagakerjaan swasta ADP Juni mencatatkan pertumbuhan 98 ribu, berada di bawah prediksi pasar sebesar 113 ribu dan menurun dari capaian Mei yang sebesar 122 ribu. Selain itu, indeks manajer pembelian manufaktur juga terkoreksi menjadi 53,3 pada Juni dari posisi sebelumnya 54,0.
"Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110 ribu. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen," terangnya.
Kondisi ekonomi domestik juga tengah menghadapi tantangan berat seiring munculnya sentimen negatif pada kuartal II, mulai dari permasalahan korupsi skala besar, kekhawatiran fiskal akibat defisit neraca perdagangan Mei, kenaikan inflasi, hingga penundaan pengumuman pasar modal oleh penyedia indeks global. Ditambah lagi, indeks PMI manufaktur nasional merosot ke level 46,9 pada Juni 2026 yang menandai penurunan terdalam dalam setahun terakhir akibat berkurangnya pesanan baru serta penurunan output produksi.
Kondisi operasional sektor pabrik domestik mengalami tekanan yang cukup signifikan akibat melemahnya permintaan terhadap barang-barang hasil manufaktur. Di samping itu, lembaga pemeringkat internasional memproyeksikan kemampuan cadangan devisa nasional pada tahun ini hanya setara untuk membiayai kebutuhan pembayaran eksternal berjalan selama 4,9 bulan. Posisi tersebut berada sedikit di bawah angka median negara-negara dengan peringkat sejenis yang mampu mencapai 5 bulan. Penurunan cadangan devisa ini utamanya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar perdagangan dampak dari lonjakan harga energi dunia, langkah intervensi pasar valas, serta pemenuhan kewajiban utang luar negeri.