Rupiah Melemah Menjadi 17.804 Per Dolar AS Tertekan Sentimen Global

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:18:14 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah diprediksi masih akan terus dipengaruhi oleh sentimen dari luar negeri pada pekan depan, meskipun saat ini dorongan positif dari dalam negeri mulai hadir lewat perkiraan kebijakan moneter Bank Indonesia yang semakin ketat. Kondisi global yang dinamis, khususnya arah kebijakan dari ekonomi Amerika Serikat, hingga kini tetap menjadi faktor paling kuat dalam menentukan pergerakan rupiah.

Ketika transaksi pasar resmi ditutup pada akhir pekan, mata uang rupiah di pasar spot mengalami penurunan sebesar Rp10 atau menyusut 0,06 persen ke posisi Rp17.804 per dolar AS. Jika dihitung dalam kurun waktu satu minggu, rupiah sebenarnya masih mengalami penguatan sebesar 0,31 persen apabila dibandingkan dengan posisi Rp17.860 per dolar AS pada hari Jumat, 12 Juni 2026. Sementara itu, kurs rupiah Jisdor tidak mengalami perubahan di angka Rp17.826 per dolar AS, namun secara mingguan tercatat tetap menguat sebesar 0,53 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.921 per dolar AS.

Kondisi merosotnya nilai rupiah pada penutupan pekan dipicu oleh terus menguatnya indeks dolar AS. Pada hari Jumat, 19 Juni 2026, indeks mata uang dolar AS bertengger di posisi 100,758 atau mengalami kenaikan sebesar 2,49 persen secara year-to-date. Tren penguatan dolar AS tersebut menjadi penyebab utama yang menahan laju penguatan rupiah walaupun kondisi fundamental di dalam negeri sedang membaik.

Faktor mendasar dari dalam negeri kini menunjukkan adanya perbaikan performa. Meredanya konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berhasil mendongkrak minat para pelaku pasar terhadap aset yang berisiko, termasuk mata uang rupiah. Situasi pasar modal juga menyambut baik hasil laporan tinjauan MSCI yang ikut memberikan sentimen tambahan yang positif bagi iklim keuangan di Indonesia.

"Rupiah didukung oleh laporan review MSCI yang direspon positif investor serta prospek kenaikan suku bunga oleh BI kedepan ikut mendukung,"

Saat ini Bank Indonesia masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka di posisi 5,75 persen. Harapan akan adanya kebijakan moneter yang ketat ini dipercaya mampu menjaga stabilitas mata uang rupiah dari berbagai gempuran tekanan eksternal. Kendati demikian, arah pergerakan nilai tukar rupiah ke depan dipastikan tetap bergantung penuh pada situasi global, khususnya kebijakan moneter dari Amerika Serikat.

"Namun perkembangan eksternal masih berubah-ubah serta indeks dolar AS yang masih naik mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun pasca hasil FOMC yang hawkish,"

Menjelang pekan depan, para pelaku pasar dipastikan akan memantau dengan cermat rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama mengenai angka inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator utama bagi bank sentral. Para pelaku investasi juga tengah menanti laporan revisi final pertumbuhan PDB Amerika Serikat yang akan memperlihatkan gambaran kekuatan ekonomi negara tersebut. Di sudut lain, perhatian pelaku pasar ikut tertuju pada pengumuman resmi mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dinilai berpotensi besar memengaruhi arus masuk modal dari luar negeri.

"Sedangkan investor juga menantikan MSCI untuk merilis klasifikasi IHSG minggu depan, yang tentunya saat ini masih diharapkan tetap menyandang status emerging market,"

Dalam rentang waktu satu pekan ke depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak dinamis pada kisaran harga: Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS

Pergerakan mata uang ini diperkirakan cenderung mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Tekanan luar negeri yang berasal dari penguatan mata uang dolar AS masih akan terus menjadi batu sandungan utama yang membatasi ruang penguatan bagi rupiah.

Terkini