IHSG Menguat Ini Rekomendasi Saham ISAT ADRO dan ULTJ Hari Ini

Kamis, 11 Juni 2026 | 12:51:19 WIB
Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan 10 Juni 2026 berhasil mengakhiri laju di zona hijau dengan kenaikan sebesar +2,71 persen atau bertambah sebanyak +155 poin menuju ke level posisi 5.902. Rekam jejak tersebut membuat performa IHSG terapresiasi sebesar +5,5 persen secara pekan berjalan atau week to date (wtd).

Kendati performa IHSG menunjukkan perbaikan dan berbalik arah dalam kurun waktu dua hari terakhir, aksi jual oleh para pemodal internasional masih terus berlangsung di pasar reguler dengan total nilai aliran modal keluar atau outflow mencapai nominal Rp5,52 triliun.

Pada periode yang sama, laporan terbaru mengenai Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) untuk bulan Mei 2026 menunjukkan adanya penyusutan ke angka level 120,9 jika dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya yang sempat berada di level posisi 123.

Catatan angka indeks ini sekaligus menjadi rekor performa paling rendah bagi tingkat optimisme pasar domestik sejak periode bulan September 2025 yang lalu.

Kelesuan proyeksi dari sisi konsumen ini terjadi secara selaras menyusul kebijakan penyesuaian tarif harga untuk komoditas BBM serta LPG non-subsidi yang sudah resmi diberlakukan ke masyarakat, ditambah lagi dengan adanya kebijakan peningkatan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada bulan Mei 2026.

Tren penurunan pada pos IKK tersebut diproyeksikan masih berpotensi untuk terus berlanjut ke depan seiring dengan adanya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan, termasuk rencana potensi kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps dari level posisi saat ini yang berada di angka 5,5 persen pada bulan Juni 2026.

Beralih ke situasi pasar internasional, pergerakan bursa saham di Wall Street secara serentak terperosok ke zona merah dengan penurunan pada Indeks Nasdaq sebesar -1,98 persen serta pelemahan pada Indeks S&P yang terpangkas sebesar -1,62 persen pada sesi penutupan tanggal 10 Juni.

Pelaku pasar memberikan respons yang dinamis terhadap publikasi data inflasi di Amerika Serikat untuk periode Mei 2026 yang menyentuh angka +4,2 persen yoy, di mana angka tersebut lebih tinggi daripada performa bulan sebelumnya yang berada di level +3,8 persen yoy walaupun pergerakannya masih masuk dalam estimasi konsensus.

Pencapaian angka inflasi global tersebut tercatat menjadi yang paling tinggi sejak bulan April 2023 akibat dipicu oleh lonjakan harga komoditas energi dunia di tengah situasi ketegangan geopolitik wilayah Timur Tengah yang masih berlangsung.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent terpantau masih bergerak kokoh pada level nilai USD 94,9 per barel dengan mengalami pertumbuhan sebesar +1,9 persen pada perdagangan tanggal 11 Juni.

Dari perkembangan korporasi global, aksi korporasi IPO SpaceX mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga sebanyak 4 kali lipat, jika dikomparasikan dengan capaian Facebook sebesar 20 kali lipat ataupun Saudi Aramco yang mencatatkan oversubscribed sebesar 4,6 kali lipat.

Proses penawaran perdana tersebut dilepas dengan patokan harga final sebesar USD 135 per lembar saham, di mana total pendanaan yang berhasil dikumpulkan mencapai nominal USD 75 miliar yang sekaligus mencetak rekor terbesar sepanjang sejarah pasar modal dengan nilai kapitalisasi pasar menembus angka USD 1,77 triliun.

Untuk pergerakan indeks domestik pada hari ini, laju IHSG diperkirakan bakal bergerak secara bervariasi dengan kisaran rentang pergerakan yang berada pada rentang area level 5.800 hingga 5.900.

Berikut merupakan rincian lengkap mengenai proyeksi teknikal beserta panduan instruksi akumulasi beli untuk beberapa emiten saham pilihan yang dapat dicermati pada hari ini:

Saham ISAT (Accum Buy)

Harga Penutupan Terakhir: 1.815

Target Harga Penjualan: 1.890

Batas Target Kerugian: 1.680

Berdasarkan analisis pergerakan grafik teknikal, posisi pergerakan saham ISAT saat ini terpantau tengah berada pada area level support dan sukses membentuk sebuah pola morning star yang memberikan sinyal kuat adanya peluang pembalikan arah atau rebound dalam jangka waktu dekat.

Kondisi tersebut juga didukung penuh oleh performa indikator MACD histogram yang masih memperlihatkan adanya kelanjutan momentum akumulasi beli, sehingga berpotensi besar memicu penguatan harga saham ke depan.

Dari sisi perkembangan korporasi internal, manajemen perusahaan bersama dengan anak usahanya yaitu PT Aplikanusa Lintasarta (AL) baru saja merealisasikan kebijakan peningkatan modal lewat sistem inbreng aset infrastruktur serat optik yang meliputi area jaringan Backbone, Access, serta Domestic Subsea ke dalam naungan PT Infra Fiber Teknologi (IFT).

Lewat skema transaksi strategis ini, perusahaan menyerahkan kontribusi aset dengan nilai total mencapai Rp8,18 triliun atau mencerminkan porsi kepemilikan saham sebesar 99 persen, sedangkan untuk pihak AL menyertakan modal aset dengan nilai sebesar Rp256 miliar atau setara porsi kepemilikan 1 persen.

Akumulasi nilai total transaksi inbreng tersebut setara dengan porsi kisaran 34,2 persen dari keseluruhan total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan saat ini.

Langkah transaksi material serta afiliasi ini sengaja ditempuh dengan tujuan utama untuk melakukan konsolidasi pada sektor tata kelola infrastruktur jaringan perusahaan agar bisa berjalan dengan lebih efisien serta terpusat, sebelum nantinya aset tersebut dipindahtangankan ke PT Ainfrastruktur Indonesia Raya melalui skema divestasi.

Saham ADRO (Accum Buy)

Harga Penutupan Terakhir: 2.300

Target Harga Penjualan: 2.380

Batas Target Kerugian: 2.150

Secara teknikal posisi pergerakan dari saham ADRO saat ini terpantau sedang mengalami fase pergerakan mendatar atau sideways tepat pada area posisi support, dengan peluang terjadinya rebound yang dikonfirmasi oleh indikator stochastic yang telah memicu pola golden cross di zona oversold.

Di samping faktor tersebut, emiten ADRO juga berhasil menempati posisi sebagai salah satu saham yang paling intensif dikoleksi dan diakumulasi oleh para pemodal internasional sejak awal periode tahun ini, dengan akumulasi nilai net buy menembus angka Rp2,47 triliun hingga posisi data 10 Juni 2026.

Pencapaian performa saham ini tergolong sangat impresif mengingat arus modal asing secara makro justru tercatat melakukan aksi jual bersih atau net outflow dengan nilai masif mencapai nominal Rp78 triliun di seluruh pasar saham domestik pada kurun waktu yang sama.

Saham ULTJ (Accum Buy)

Harga Penutupan Terakhir: 1.285

Target Harga Penjualan: 1.330

Batas Target Kerugian: 1.200

Posisi harga dari pergerakan saham ULTJ kini tercatat sedang tertahan di sekitar area pertahanan support dengan membentuk sebuah pola candlestick bullish spinning top, di mana kondisi ini memberikan indikasi awal terkait mulai masuknya tekanan volume pembelian di zona harga tersebut.

Pada saat yang bersamaan, posisi indikator stochastic yang kedapatan mengalami persilangan atau crossing di dalam area jenuh jual atau oversold turut memperkuat sinyal potensi terjadinya pembalikan arah naik dalam kurun jangka pendek.

Mengingat letak posisi harga saham yang masih berada dekat dengan area batas bawah atau support, maka saham ULTJ ini dinilai sangat menarik untuk terus dipantau intensif sebagai salah satu aset yang berpeluang besar meneruskan tren kenaikan harga asalkan mampu mempertahankan posisi level support saat ini.

Terkini