JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan akan mengalami pergerakan yang terbatas pada perdagangan pekan depan.
Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta dampak lanjutan dari penataan ulang bobot indeks MSCI.
IHSG dinilai berpotensi bergerak mendatar dalam rentang 6.000 hingga 6.300 pada pekan depan.
Hal tersebut dapat terjadi setelah indeks mampu bertahan dari tekanan jual yang muncul selama proses rebalancing MSCI sampai akhir Mei 2026.
"IHSG berpotensi bergerak sideways di kisaran 6.000-6.300 pada pekan depan," tulis tim riset.
Pada perdagangan Jumat, indeks ditutup turun tipis sebesar 0,05 persen ke posisi 6.127,38.
Sebelum melemah menjelang penutupan perdagangan, indeks sempat bergerak menguat hingga menyentuh level 6.230.
Tekanan jual akibat keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI ternyata tidak sedalam dari apa yang ditakutkan oleh pasar sebelumnya.
Bahkan, beberapa saham terpantau mampu mencatat penguatan yang cukup signifikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa para pelaku pasar sudah mengantisipasi rebalancing MSCI lebih awal sehingga aksi jual yang terjadi menjadi lebih terukur.
“Meski terjadi tekanan jual terhadap beberapa saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI, koreksi tidak sedalam yang dikhawatirkan karena rebalancing ini sudah diantisipasi investor,” tulis tim riset dalam laporannya.
Dari faktor eksternal, sentimen pasar terbantu oleh penguatan mayoritas indeks saham di Asia yang mengikuti tren kenaikan saham teknologi di Wall Street.
Kenaikan saham teknologi di Amerika Serikat menjadi dorongan positif bagi pasar regional meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia juga turut membantu mengurangi kecemasan para investor terhadap tekanan inflasi secara global.
Namun, pasar saham domestik masih dibayangi oleh pelemahan nilai tukar mata uang rupiah.
Pada perdagangan pasar spot Jumat, mata uang rupiah kembali menyentuh level terendah pada posisi Rp17.881 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi mata uang domestik ini menjadi salah satu penahan ruang penguatan bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Berdasarkan data sektoral, saham di sektor kesehatan mengalami penurunan terdalam dengan koreksi sebesar 1,49 persen.
Sebaliknya, sektor infrastruktur berhasil menjadi penopang utama indeks setelah menguat sebesar 2,89 persen sepanjang perdagangan.
Para pelaku pasar pada pekan depan diperkirakan masih akan terus memantau arah aliran dana asing, stabilitas mata uang rupiah, serta perkembangan sentimen global.
Perkembangan yang dipantau mencakup ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
Jika tekanan dari eksternal mulai mereda dan nilai tukar rupiah bergerak stabil, indeks memiliki peluang untuk kembali menguji area resistance di posisi 6.300.
Namun sebaliknya, jika aksi jual oleh investor asing masih berlanjut dan nilai tukar rupiah terus melemah, indeks berisiko kembali mendekati area support psikologis pada level 6.000.