Harga Perak Antam Hari Ini 30 Mei 2026 Turun Menjadi Rp49.750 per Gram

Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:55:53 WIB
Ilustrasi Perak Antam, Sumber: (NET).

JAKARTA - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami penurunan pada Sabtu, 30 Mei 2026. Kondisi pergerakan harga perak Antam hari ini tidak sejalan dengan harga emas Antam, meskipun harga perak di pasar dunia tercatat mengalami kenaikan dalam kurun waktu sebulan.

Berdasarkan data resmi, harga perak Antam mengalami penurunan sebesar Rp 300 sehingga kini berada di angka Rp 49.750 per gram.

Jika dibandingkan dengan perdagangan pada hari sebelumnya, harga perak Antam berada pada posisi Rp 50.050.

Antam menyediakan beberapa pilihan bagi konsumen, seperti perak batangan dengan ukuran 250 gram, 500 gram, serta perak butiran murni sebesar 99,95 persen.

Untuk rincian harganya adalah sebagai berikut: Perak batangan 250 gram dijual dengan harga Rp 12.962.500 Perak batangan 500 gram dijual dengan harga Rp 25.000.000

Sementara itu di pasar internasional, harga perak tercatat mengalami penurunan sebesar 0,46 persen ke posisi US$ 75,24.

Pada hari Jumat pekan ini, harga perak dunia sempat menyentuh level US$ 76 per ounce. Nilai ini sebenarnya berada dalam tren kenaikan bulanan yang mencapai lebih dari 3 persen.

Perkembangan tersebut terjadi karena para pelaku pasar modal terus menyeimbangkan kabar mengenai rencana perpanjangan masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah kekhawatiran terkait isu inflasi yang masih membayangi serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang.

Proses negosiasi guna menghentikan konflik yang sudah berlangsung selama tiga bulan tersebut masih terus berjalan.

Terdapat kabar mengenai rencana perpanjangan masa gencatan senjata sementara selama 60 hari yang kini sedang menanti persetujuan dari Presiden Trump.

Meski demikian, adanya hambatan pada jalur pengiriman logistik serta sarana infrastruktur energi berpotensi menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi, yang pada akhirnya membuat bank sentral Federal Reserve tetap mengambil sikap waspada.

Indikator data ekonomi mengenai inflasi di Amerika Serikat pada bulan ini menunjukkan adanya lonjakan yang paling cepat dalam periode tiga tahun pada April lalu.

Kondisi tersebut mempertegas perkiraan bahwa Federal Reserve masih akan menahan tingkat suku bunga di level yang sama sampai dengan tahun 2027.

Lembaga keuangan UBS baru-baru ini juga mengubah proyeksi defisit pasokan perak menjadi berkisar antara 60 sampai 70 juta ounce, dari perkiraan awal yang sebesar 300 juta ounce.

UBS pun memangkas proyeksi permintaan investasi perak sepanjang tahun menjadi 300 juta ounce dari estimasi sebelumnya yang di atas 400 juta ounce.

Di sisi yang lain, harga emas di pasar dunia dilaporkan menguat dalam dua sesi perdagangan berturut-turut pada hari Jumat, 29 Mei 2026.

Lonjakan harga emas tersebut dipicu oleh beredarnya kabar bahwa pihak Amerika Serikat dan Iran kemungkinan telah menyepakati perpanjangan masa gencatan senjata.

Akan tetapi, harga emas dunia secara keseluruhan masih menuju tren penurunan bulanan akibat adanya kecemasan pelaku pasar atas masalah inflasi serta harapan akan tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Harga emas spot tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen menjadi US$ 4.519,64 per ounce.

Nilai tersebut sempat merosot ke level yang paling rendah dalam dua bulan terakhir di posisi US$ 4.356,76 pada hari Kamis pekan ini sebelum akhirnya ditutup menguat.

Sedangkan untuk kontrak emas berjangka Amerika Serikat yang dijadwalkan untuk pengiriman bulan Agustus terpantau mengalami kenaikan sebesar 0,4 persen menuju angka US$ 4.550.

Pada komoditas lainnya, harga perak spot terpantau mengalami penurunan sebesar 0,2 persen menuju posisi US$ 75,51 per ounce namun tetap berada dalam jalur kenaikan bulanan.

Sementara itu, harga platinum bergerak stabil pada posisi US$ 1.923,55. Harga palladium dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen menjadi US$ 1.375,57, walaupun tercatat sudah mengalami penurunan lebih dari 9 persen sepanjang bulan ini.

Kabar mengenai usulan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran menyebutkan bahwa masa gencatan senjata akan diperpanjang selama 60 hari sekaligus membuka kembali jalur pembatasan pengiriman logistik yang melewati Selat Hormuz.

Akan tetapi, Presiden Amerika Serikat Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan resmi terhadap draf perjanjian tersebut, dan media resmi pemerintah Iran mengabarkan bahwa kesepakatan ini masih belum sepenuhnya final.

Terkait pergerakan pasar, emas dilaporkan berhasil bangkit kembali dari titik batas dukungan teknis yang utama.

Di saat yang sama, rasa optimisme pasar terhadap perpanjangan masa gencatan senjata ikut menekan harga minyak dunia beserta nilai mata uang dolar Amerika Serikat menjadi lebih rendah, di mana kedua hal tersebut turut menopang harga emas batangan.

Indeks mata uang dolar Amerika Serikat juga sedang berada dalam jalur penurunan mingguan yang berdampak pada harga logam mulia berdenominasi dolar menjadi terasa lebih murah bagi para pembeli dari luar negeri, sementara harga komoditas minyak mentah diproyeksikan turut melemah dalam skala mingguan.

Meskipun demikian, terdapat pandangan bahwa tema kebijakan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama masih tetap berjalan kuat.

Hal ini dikarenakan adanya potensi gangguan pada pengiriman logistik serta sarana energi yang bisa memicu harga minyak tetap tinggi, sehingga membuat Federal Reserve memilih tetap berhati-hati.

Data ekonomi menunjukkan inflasi di Amerika Serikat bergerak naik dengan laju yang paling cepat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir pada April lalu.

Kondisi ini didorong oleh tingginya harga sektor energi yang berhubungan dengan konflik Iran, sehingga semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga tidak berubah hingga tahun depan.

Tingkat suku bunga yang berada di level tinggi secara otomatis akan menaikkan biaya peluang dalam memegang aset emas yang sifatnya tidak memberikan imbal hasil secara langsung.

Kondisi inilah yang membuat harga emas spot mengalami penurunan lebih dari 2 persen sepanjang bulan berjalan ini.

Di wilayah lainnya, tingkat permintaan terhadap komoditas emas di negara India dilaporkan masih tetap sepi akibat dari tingginya harga serta beban biaya impor.

Sementara itu, nilai premi emas di negara China selaku konsumen utama terpantau mengalami penyusutan di tengah suasana pasar yang cenderung bersikap penuh kehati-hatian.

Terkini