IHSG Jatuh 8 Persen Investor Besar Malah Akumulasi Saham Ini

Minggu, 24 Mei 2026 | 10:45:27 WIB
ilustrasi ihsg (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini membuat banyak investor ritel panik dan buru-buru melepas aset mereka. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, investor legendaris justru mengambil langkah yang 180 derajat berbeda dengan memborong saham pilihan.

Aksi borong saham yang dilakukan oleh tokoh pasar modal ternama ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai potensi pembalikan arah. Mengapa seorang investor besar justru menyuntikkan dana segar dalam jumlah fantastis ketika pasar sedang memerah?

Bagi sebagian orang, penurunan harga instrumen investasi dianggap sebagai risiko besar yang harus dihindari sesegera mungkin. Namun, bagi penganut strategi nilai, koreksi pasar yang signifikan adalah momentum langka untuk mendapatkan aset berkualitas tinggi dengan harga diskon.

Pertanyaan mengenai penyebab kejatuhan indeks kerap menjadi pencarian yang paling dominan di kalangan pelaku pasar modal domestik selama beberapa hari terakhir. Kondisi pasar saham dalam negeri memang sedang mengalami tekanan jual yang sangat masif.

Statistik menunjukkan bahwa IHSG anjlok sebesar 8,35% dalam periode pergerakan hingga pekan ketiga Mei 2026, tepatnya berakhir pada tanggal 22 Mei 2026. Indeks bursa saham domestik terjerembap ke level 6.162,04 dari posisi pekan sebelumnya yang sempat bertahan di level 6.723,32.

Kejatuhan indeks yang cukup dalam ini secara otomatis menggerus nilai kapitalisasi pasar saham di bursa dalam waktu singkat. Nilai kapitalisasi pasar tercatat menyusut hingga Rp1.190 triliun, atau setara dengan penurunan sebesar 10,07%, dari Rp11.825 triliun menjadi Rp10.635 triliun.

Sentimen makroekonomi global dan penyesuaian portofolio oleh institusi besar dituding menjadi faktor utama di balik rontoknya harga-harga saham. Banyak emiten blue chip maupun lapis kedua masuk ke dalam daftar saham yang paling melemah akibat tekanan jual berantai ini.

Di balik kepanikan massal yang melanda lantai bursa, data pergerakan modal per Kamis, 21 Mei 2026, justru mengungkap fakta menarik. Investor kawakan Lo Kheng Hong diketahui melakukan aksi borong saham terbaru secara agresif pada beberapa emiten sekaligus.

Langkah nyata yang diambil oleh sang investor kawakan ini menjadi bukti empiris mengenai penerapan tips beli saham saat pasar anjlok secara disiplin. Ketika mayoritas pelaku pasar memilih untuk keluar, investor yang memiliki orientasi jangka panjang justru memperbesar kepemilikan mereka.

Fokus perhatian pasar tertuju pada transaksi jumbo yang dilakukan oleh Lo Kheng Hong pada saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Transaksi ini menandai kembalinya sang investor ke dalam jajaran pemegang saham signifikan di emiten perkebunan tersebut.

Selain melakukan akumulasi besar pada emiten baru, tokoh pasar modal ini juga terpantau konsisten mempertebal porsi kepemilikannya pada emiten lama. Langkah taktis ini menegaskan keyakinan kuat sang investor terhadap prospek bisnis fundamental dari perusahaan yang dipilihnya.

Berdasarkan laporan resmi yang dipublikasikan baru-baru ini, Lo Kheng Hong diketahui membeli sebanyak 793,64 juta lembar saham SIMP. Transaksi pembelian berskala besar tersebut langsung mengubah persentase kepemilikan sahamnya di emiten kelapa sawit tersebut dari 0% menjadi 5,12%.

Masuknya nama investor legendaris ini ke dalam jajaran pemilik saham di atas 5% pada emiten grup salim kelapa sawit langsung menuai respons positif. Pasar menilai kehadiran investor strategis bermodal besar dapat memberikan sentimen psikologis yang solid bagi pergerakan harga saham ke depan.

Tidak berhenti di situ, transaksi saham teranyar juga mencakup penambahan kepemilikan pada PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Sang investor kawakan terpantau membeli tambahan sebanyak 912,40 ribu lembar saham perusahaan manufaktur ban terkemuka tersebut.

Pembelian teranyar ini secara otomatis mendongkrak porsi kepemilikan total Lo Kheng Hong di saham GJTL dari yang sebelumnya sebesar 6,74% menjadi 6,77%. Akumulasi yang dilakukan secara bertahap menunjukkan bahwa harga pasar saat ini dinilai masih berada di bawah nilai intrinsiknya.

Jika menilik data historis per akhir Maret 2026, tokoh investasi ini sejatinya telah menggenggam 218.032.800 lembar saham GJTL atau setara 6,257%. Jumlah tersebut tercatat sudah mengalami peningkatan sebanyak 8.134.300 lembar saham jika dibandingkan dengan periode pelaporan sebelumnya.

Berikut adalah rincian data mutasi kepemilikan saham terbaru oleh investor kakap berdasarkan dokumen resmi yang diterbitkan otoritas kliring pasar modal:

Nama Investor: Lo Kheng Hong Kode Emiten: SIMP Volume Transaksi (Lembar): 793.640.000 Porsi Kepemilikan Akhir: 5,12%

Nama Investor: Lo Kheng Hong Kode Emiten: GJTL Volume Transaksi (Lembar): 912.400 Porsi Kepemilikan Akhir: 6,77%

Nama Investor: Henan Putihrai Asset Management Kode Emiten: SSIA Volume Transaksi (Lembar): 3.910.000 Porsi Kepemilikan Akhir: 11,91%

Nama Investor: PT Triple Bersama Berkah Kode Emiten: EPAC Volume Transaksi (Lembar): 225.400.000 Porsi Kepemilikan Akhir: 6,82%

Nama Investor: Ferry Sudjono Kode Emiten: FORE Volume Transaksi (Lembar): 1.060.000 Porsi Kepemilikan Akhir: 5,12%

Nama Investor: PT Charnic Capital Tbk Kode Emiten: FUJI Volume Transaksi (Lembar): 68.420.000 Porsi Kepemilikan Akhir: 5,26%

Aksi akumulasi aset di kala harga terkoreksi ternyata tidak hanya didominasi oleh investor individu bermodal besar seperti Lo Kheng Hong. Data terbaru mencatat sejumlah korporasi dan perusahaan manajer investasi profesional turut memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat portofolio mereka.

Henan Putihrai Asset Management, misalnya, dilaporkan menambah kepemilikan sebanyak 3,91 juta lembar saham pada PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Transaksi strategis ini berhasil mendongkrak porsi kepemilikan manajer investasi tersebut dari 11,83% menjadi 11,91%.

Langkah ekspansif juga ditunjukkan oleh PT Triple Bersama Berkah yang memborong 225,40 juta lembar saham PT Era Pratama Abadi Tbk (EPAC). Pembelian masif tersebut membuat korporasi ini menguasai kepemilikan awal yang signifikan, yakni sebesar 6,82%.

Di sektor konsumsi, investor individu Ferry Sudjono menambah kepemilikan sebanyak 1,06 juta lembar saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE). Akumulasi saham ini berhasil mengantarkan porsi kepemilikan total miliknya menyentuh angka 5,12% dari total saham yang beredar.

Sementara itu, PT Charnic Capital Tbk mengeksekusi pembelian 68,42 juta lembar saham PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI). Langkah taktis entitas investasi ini menghasilkan saldo kepemilikan awal yang cukup besar di emiten pembiayaan tersebut, yaitu sebesar 5,26%.

Laporan pergerakan bursa juga memperlihatkan penguatan posisi institusi pada emiten lainnya di bursa domestik. Porsi kepemilikan PT Samuel Sekuritas Indonesia pada saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) tercatat mengalami peningkatan hingga menjadi sebesar 12,39%.

Secara simultan, CGS International Securities Singapore Pte Ltd juga mempertebal eksistensinya di pasar modal Indonesia. Kepemilikan institusi asing tersebut pada saham PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) dilaporkan meningkat menjadi sebesar 5,28%.

Selain aksi beli yang dilakukan oleh pihak eksternal, langkah penyelamatan nilai perusahaan juga datang dari internal emiten itu sendiri. Korporasi besar dengan arus kas kuat umumnya menggunakan mekanisme pembelian kembali saham demi memberikan perlindungan terhadap harga saham mereka.

Fenomena ini memicu keingintahuan publik mengenai mekanisme pembelian kembali saham dan kontribusinya dalam menstabilkan pasar saham yang bergejolak. Secara definisi, aksi korporasi ini merupakan langkah emiten membeli kembali sahamnya dari publik untuk disimpan sebagai saham treasuri.

PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi salah satu raksasa bursa yang secara aktif mengeksekusi strategi perlindungan nilai ini. Emiten alat berat tersebut dilaporkan menambah saham treasury sebanyak 615,90 ribu lembar dalam periode fluktuasi pasar baru-baru ini.

Eksekusi buyback yang konsisten tersebut berhasil mengerek porsi saham treasury UNTR naik menjadi 5,71% dari total modal ditempatkan. Melalui langkah ini, manajemen emiten secara tidak langsung mengirimkan sinyal kuat kepada pasar bahwa harga saham mereka sudah tergolong murah.

Langkah berani yang diambil oleh para investor institusi dan individu kelas kakap ini memberikan pelajaran berharga mengenai arti penting kesabaran. Fluktuasi indeks bursa tidak dipandang sebagai sebuah ancaman akhir, melainkan sebuah mekanisme pasar untuk menyaring saham logis.

Keberhasilan mengamankan aset berfundamental kokoh pada harga rendah merupakan inti dari keuntungan strategi investasi nilai jangka panjang. Investor nilai tidak fokus pada grafik harian, melainkan pada kapasitas emiten untuk menghasilkan laba bersih di masa depan.

"Membeli saham emiten grup salim kelapa sawit maupun industri manufaktur saat harganya tertekan membutuhkan analisis rasio keuangan yang mendalam," ujar pelaku pasar. Investor wajib memastikan tingkat utang perusahaan tetap terkendali dan operasional bisnis inti tetap berjalan normal tanpa gangguan berarti.

Aksi borong saham oleh figur besar di tengah penurunan bursa sering kali menjadi indikator awal bahwa harga pasar mulai mendekati area jenuh jual. Pengamatan cermat terhadap pergerakan portofolio investor institusi dapat membantu kami memetakan ke mana arah aliran likuiditas besar selanjutnya.

Terkini