JAKARTA - Pergerakan nilai mata uang rupiah diperkirakan akan mengalami variasi yang cukup tajam pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan hari ini.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, nilai mata uang Indonesia mencatat penurunan sebesar 0,40 persen dan berada di posisi Rp17.670. Pelemahan ini sejalan dengan tren penurunan yang terjadi pada mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Secara rinci, nilai yen Jepang merosot 0,11 persen, yuan China melemah 0,01 persen, dolar Singapura turun 0,20 persen, serta won Korea mengalami koreksi sebesar 0,51 persen.
Selanjutnya, dolar Hong Kong juga terpangkas 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,11 persen, dan mata uang baht Thailand ikut terdepresiasi sebesar 0,34 persen.
Di tengah situasi tersebut, dolar Taiwan bergerak berlawanan dengan menguat sebesar 0,18 persen. Sementara itu, rupee India terpantau turun 0,13 persen dan ringgit Malaysia melemah tipis 0,03 persen.
Berdasarkan data perdagangan di pasar spot, nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 13,5 poin ke posisi Rp17.667 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh sikap para pelaku pasar yang cenderung menghindari risiko di sektor keuangan domestik.
Penurunan nilai mata uang garuda ini terjadi bersamaan dengan aksi pelepasan saham di bursa dalam negeri yang masih berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kondisi luar negeri serta peningkatan kekhawatiran dari para penanam modal terkait perkembangan kebijakan hukum di dalam negeri.
Poin yang tengah menjadi sorotan utama adalah kebijakan pemerintah mengenai aktivitas ekspor komoditas penting lewat Danantara Sumberdaya Indonesia.
Kebijakan tersebut memicu keraguan di kalangan penanam modal mengenai kepastian regulasi serta kemungkinan bertambah kuatnya dominasi pemerintah pada sektor privat, khususnya industri kekayaan alam.
Di samping dinamika domestik, para investor juga mengamati situasi internasional, terutama prospek rekonsiliasi di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Kondisi geopolitik yang belum mereda mendorong para pemilik modal memindahkan dana mereka ke bentuk aset yang dinilai lebih aman seperti dolar AS.
Menguatnya indeks dolar AS serta kenaikan keuntungan dari obligasi pemerintah AS semakin memberikan tekanan berat bagi mata uang di negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Lebih lanjut, pelaku sektor keuangan tengah menunggu rilis data neraca transaksi berjalan nasional periode kuartal 1/2026 yang diperkirakan masih mencatatkan defisit mendekati angka US$0,8 miliar.