Kenaikan BI Rate 5,25 Persen Berpotensi Dongkrak Cicilan KPR

Jumat, 22 Mei 2026 | 13:50:35 WIB
Ilustrasi Property (sumber foto: NET)

JAKARTA - Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Rabu (20/05/2026) diproyeksikan bakal memicu lonjakan pada cicilan rumah. Kondisi tersebut menyusul adanya prediksi kenaikan suku bunga komersial, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR) non-subsidi, sebagai imbas dari kebijakan kenaikan BI Rate tersebut.

"Memang kondisi saat ini serba sulit. Kenaikan BI Rate tentu akan mendorong kenaikan suku bunga komersial, termasuk untuk KPR non-subsidi. Pasti efeknya akan memberatkan, baik calon pembeli ataupun konsumen yang sedang mengangsur," kata Bambang Ekajaya pada Rabu (20/5/2026).

Imbas dari peningkatan suku bunga acuan terhadap sektor properti diprediksi tidak langsung terjadi seketika. Efek dari kebijakan tersebut diperkirakan baru akan mulai terlihat dan dirasakan dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan ke depan. Di samping itu, kondisi pasar properti saat ini dinilai masih berada dalam situasi yang cukup berat.

"Tentu efeknya baru akan terasa dua sampai tiga bulan lagi. Sementara pasar properti masih sulit," ujarnya.

Tekanan yang dialami oleh industri hunian tidak cuma bersumber dari potensi melonjaknya bunga KPR. Faktor situasi global pun turut andil dalam memicu kenaikan pada biaya konstruksi. Jika pergolakan yang terjadi di wilayah Timur Tengah tidak kunjung mereda, biaya untuk pembangunan diproyeksikan bakal ikut melambung.

"Apalagi kalau perang di Timur Tengah belum tuntas, biaya konstruksi akan terkerek naik tajam. Kalau ditambah bunga KPR juga melonjak, pasti membuat calon pembeli akan menahan diri," kata Bambang.

Keadaan ini dinilai mampu menimbulkan tekanan yang bertubi-tubi bagi sektor industri properti. Pada satu sisi nilai jual properti berpeluang mengalami kenaikan, namun di sisi lain tingkat daya beli dari masyarakat dianggap masih mengalami pelemahan. Kebijakan untuk mendongkrak harga jual properti pun bukan menjadi sebuah opsi yang gampang diterapkan oleh pengembang di tengah situasi sekarang.

"Sementara sebagai developer, menaikkan harga properti bukan pilihan yang tepat, sedang daya beli melemah," ucap Bambang.

Dalam melewati dinamika situasi ini, para pelaku usaha di bidang perumahan sekarang ini lebih memilih untuk menerapkan langkah yang penuh kewaspadaan dalam mengelola bisnis mereka. Taktik usaha yang diterapkan saat ini yaitu tetap menjual proyek yang telah ada sembari mencermati pergerakan arah pasar.

"Saat ini yang terbaik tentu wait and see sambil tetap memasarkan yang ada," katanya.

Sejumlah pihak pengembang pun diproyeksikan bakal menangguhkan dahulu rencana pengerjaan untuk proyek-proyek hunian baru mereka sampai keadaan pasar berangsur-angsur pulih dan stabil kembali.

"Tetapi proyek baru, untuk saya, hold dulu sampai semua kembali normal," tutur Bambang.

Terkini