Rupiah Loyo di Level Rp17.655 per Dolar AS akibat Sentimen Global

Jumat, 22 Mei 2026 | 13:50:35 WIB
Ilustrasi Rupiah Dolar(sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 1 poin atau sebesar 0,01 persen pada perdagangan Kamis pagi.

Mata uang Garuda kini berada pada posisi Rp17.655 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.654 per dolar AS.

Kondisi lesunya mata uang lokal ini dinilai terjadi karena imbas dari harga komoditas minyak dunia yang masih berada di level tinggi.

Perdagangan mata uang hari ini diprediksi akan terus melemah dengan rentang pergerakan di angka Rp17.690 hingga Rp17.740 per dolar AS.

Situasi tersebut dipicu oleh sentimen global berupa harga minyak yang bertengger di atas 100 dolar AS per barel serta indeks dolar AS yang terpantau masih perkasa.

Berdasarkan data pasar terbaru, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka saat ini berada di angka 104,5 dolar AS per barel, atau mengalami penurunan sekitar 6,5 persen.

Sementara itu, jenis minyak West Texas Intermediate atau WTI tercatat mengalami penurunan sebesar 5,5 persen menuju level 98 dolar AS per barel.

Tren penurunan harga komoditas ini terjadi setelah adanya pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa konflik dengan Iran bakal segera usai.

Selain itu, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh penyusutan stok minyak AS yang mencatatkan rekor penurunan terdalam sepanjang sejarah pada pekan lalu.

Negosiasi dengan pihak Iran dikabarkan masih terus berjalan dan hasil kesepakatan antara kedua belah pihak diproyeksikan akan segera menemui kejelasan dalam waktu dekat.

Koreksi harga minyak ini juga berjalan beriringan dengan merosotnya cadangan minyak mentah AS, termasuk cadangan strategis negara tersebut.

Hal ini terjadi lantaran aktivitas ekspor yang meningkat pesat sehingga menguras pasokan domestik kami.

Jumlah persediaan minyak mentah dilaporkan menyusut hingga 17,8 juta barel, yang sekaligus menyeret total cadangan minyak ke titik paling rendah dalam kurun waktu hampir satu tahun terakhir.

Beralih ke sentimen dalam negeri, posisi fiskal dari pemerintah dinilai masih memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap isu geopolitik, pergerakan harga minyak, beban subsidi, serta pemberian insentif demi menjaga daya beli masyarakat.

Pidato Presiden Prabowo Subianto dinilai masih memerlukan pengkajian yang lebih mendalam lagi di tengah situasi sektor fiskal yang rentan saat ini. Terlebih, tax ratio di Indonesia tercatat belum pernah beranjak melebihi angka 10 persen dari total GDP.

Terkini