Emas Kembali Menjadi Investasi Favorit Masyarakat Indonesia Saat Ini

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:18:35 WIB
Emas Kembali Menjadi Investasi Favorit Masyarakat Indonesia Saat Ini

JAKARTA - Minat masyarakat Indonesia terhadap emas sebagai instrumen investasi kembali menunjukkan tren positif. 

Bullion bank, yaitu bank yang menyediakan layanan simpan, jual, dan gadai emas, mencatat peningkatan signifikan jumlah nasabah. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa kenaikan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap emas sebagai penyimpan nilai yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin resmi untuk kegiatan usaha bullion kepada PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan PT Pegadaian, masyarakat memiliki lebih banyak opsi untuk menabung emas secara legal dan terpercaya.

Lonjakan Nasabah Bullion Bank

Menurut data terbaru, jumlah nasabah bank emas meningkat pesat. Pada Februari 2025, nasabah tercatat sebanyak 3,2 juta orang. Kini, pada awal Maret 2026, jumlah ini telah meningkat menjadi 5,7 juta nasabah.

“Februari tahun lalu jumlah nasabahnya 3,2 juta. Sekarang sudah mencapai 5,7 juta, meningkat dengan pesat,” kata Airlangga.

Peningkatan nasabah ini tidak hanya terjadi di sektor simpanan, tetapi juga di fasilitas gadai emas. Di Pegadaian, emas yang digadaikan meningkat dari 94 ton menjadi 144,7 ton. Selain itu, masyarakat yang menggunakan emas sebagai jaminan pinjaman meningkat sebesar 38,5 ton, atau senilai sekitar Rp102 triliun.

Di BSI, jumlah emas yang dimanfaatkan oleh nasabah juga naik menjadi sekitar 22 ton. Hal ini menunjukkan bahwa emas bukan hanya instrumen investasi, tetapi juga menjadi alat likuiditas bagi masyarakat yang membutuhkan pinjaman dengan jaminan aset berharga.

Emas sebagai Safe Haven

Salah satu faktor utama meningkatnya minat masyarakat pada emas adalah ketidakpastian global. Harga emas yang saat peluncuran Bullion Bank masih berada di kisaran US$ 3.000 per ons troi, kini telah menanjak menjadi sekitar US$ 5.000 per ons troi.

Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh kondisi perang, fluktuasi ekonomi global, dan ketidakpastian geopolitik. Dalam konteks tersebut, emas kembali menjadi instrumen safe haven yang aman bagi masyarakat untuk menyimpan nilai kekayaan mereka.

Masyarakat memilih emas karena dianggap lebih stabil dibandingkan instrumen lain, seperti saham atau obligasi, terutama saat inflasi dan gejolak ekonomi tinggi. Emas juga mudah dijual kembali, sehingga memberikan likuiditas tinggi bagi pemiliknya.

Kolaborasi Lembaga Bullion

Peningkatan minat masyarakat terhadap emas tidak lepas dari kerja sama antara pemerintah, Pegadaian, dan BSI. Kolaborasi ini mempermudah masyarakat mengakses emas digital maupun fisik. 

Misalnya, melalui layanan digital, masyarakat dapat membeli emas secara online, memantau harga harian, serta menabung emas dengan mudah melalui aplikasi resmi.

Menurut Airlangga, inisiatif ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan di Indonesia. Dengan lebih banyak masyarakat yang memahami manfaat menabung emas, diharapkan keamanan finansial keluarga dan masyarakat dapat meningkat.

Selain itu, emas juga memberikan keuntungan tambahan bagi sektor keuangan, karena aset ini bisa digunakan sebagai jaminan pinjaman atau gadai, sehingga memperkuat ekosistem finansial di Indonesia.

Dampak pada Inflasi dan Ekonomi

Kenaikan pembelian emas juga berkontribusi terhadap dinamika inflasi nasional. Peningkatan permintaan emas dalam jumlah besar dapat mempengaruhi harga dan kestabilan mata uang lokal. 

Namun, pemerintah menilai kenaikan ini sebagai fenomena alami, karena emas merupakan instrumen investasi jangka panjang dan digunakan sebagai penyeimbang portofolio masyarakat.

Selain itu, keberadaan bullion bank mendorong masyarakat untuk memanfaatkan produk keuangan yang aman dan transparan. Dengan pengawasan OJK, risiko penipuan dan ketidakpastian dalam transaksi emas bisa diminimalkan.

Prospek Investasi Emas

Minat masyarakat terhadap emas diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan kondisi global yang masih bergejolak. Emas tidak hanya menjadi investasi, tetapi juga instrumen lindung nilai (hedging) terhadap risiko ekonomi.

Dengan meningkatnya jumlah nasabah dari 3,2 juta menjadi 5,7 juta, terlihat jelas bahwa kepercayaan masyarakat terhadap emas terus menguat. Pemerintah dan lembaga keuangan seperti Pegadaian dan BSI terus berinovasi dengan layanan digital, sehingga masyarakat dapat menabung emas dengan mudah, cepat, dan aman.

Secara keseluruhan, emas kembali menjadi pilihan investasi utama di Indonesia karena kestabilan nilai, likuiditas tinggi, dan fleksibilitas dalam berbagai kebutuhan keuangan. 

Ke depan, pemerintah berharap bullion bank dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat, sehingga inklusi keuangan dan literasi keuangan meningkat secara signifikan.

Terkini