Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Pilihan Alternatif Wisata Budaya Yang Dekat Bali

Senin, 02 Februari 2026 | 09:53:34 WIB

JAKARTA - Di balik gemerlap destinasi wisata di Bali, ada sebuah desa wisata yang mulai menarik perhatian wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang lebih otentik dan bersahaja. Desa Wisata Adat Osing Kemiren, yang berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menawarkan sebuah alternatif menarik dari arus wisata mainstream. Desa ini bukan hanya sekadar tempat untuk mampir sebelum atau sesudah liburan ke Bali, tetapi telah berkembang menjadi destinasi yang diakui secara nasional bahkan internasional karena kemampuannya menggabungkan pelestarian budaya lokal dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menengok Kunjungan Wisatawan dan Dinamika Pasca Pandemi
Menurut laporan yang disampaikan oleh Pokdarwis Desa Wisata Adat Osing Kemiren, jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata ini mencapai rata-rata sekitar 4.000 orang setiap tahunnya. Mayoritas dari mereka datang dengan satu tujuan utama: menyelami kebudayaan setempat yang selama ini berhasil dipertahankan dan dikemas dalam pengalaman wisata yang menarik dan edukatif.

Ketua Pokdarwis, Moh Edy Saputro, menjelaskan bahwa sebelum pandemi COVID-19, jumlah kunjungan sempat menyentuh angka sekitar 18.000 pada 2019, sebuah angka yang menunjukkan potensi desa ini sebagai magnet wisata di kawasan timur Pulau Jawa. “Sebelum pandemi, kunjungan di Desa Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu orang, itu terjadi pada 2019. Namun, setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu,” kata Edy, menegaskan komitmen desa untuk kembali bangkit dengan menghadirkan pengalaman budaya yang otentik bagi setiap pengunjung.

Kondisi pascapandemi ini menjadi momentum bagi warga setempat untuk menguatkan kembali daya tarik wisata mereka dengan fokus pada pelestarian budaya, pengembangan usaha lokal, dan promosi yang lebih terarah. Hal ini terlihat dari aktifnya kembali kegiatan budaya, pasar tradisional, serta atraksi seni yang kini rutin digelar untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ekonomi Lokal Tumbuh Melalui Pariwisata Budaya
Perkembangan pariwisata di Desa Kemiren ternyata memberi dampak yang signifikan bagi perekonomian warga setempat. Edy menyatakan bahwa masyarakat desa benar-benar merasakan “berkah rupiah” dari berkembangnya sektor wisata di wilayah mereka. Hingga saat ini, tercatat sekitar 22 usaha kecil dan menengah (UKM) di desa tersebut tumbuh seiring dengan kebutuhan wisatawan, yang bergerak dalam sektor makanan dan minuman hingga produk sandang (pakaian dan kerajinan).

Keberadaan UKM ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat secara langsung, tetapi juga mempertahankan tradisi dan keterampilan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Produk-produk kuliner khas seperti pecel pitik dan kudapan lokal lainnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mencicipi rasa autentik daerah Osing. Selain itu, banyak rumah warga yang kemudian disulap menjadi homestay yang unik dan ramah, memberikan pengalaman tinggal di lingkungan masyarakat asli bagi para tamu yang berkunjung.

Keberadaan sekitar 40 homestay yang diperuntukkan bagi wisatawan merupakan salah satu bukti nyata bagaimana pariwisata membantu memperkuat ekonomi desa. Homestay ini mayoritas merupakan rumah tinggal milik pribadi yang disewakan, sehingga pendapatan yang dihasilkan langsung masuk ke perekonomian keluarga pemiliknya. Dengan arsitektur khas Osing yang dipertahankan, homestay-homestay ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi para pelancong yang ingin merasakan suasana lokal secara penuh.

Pelestarian Budaya sebagai Daya Tarik Utama
Yang membedakan Desa Wisata Kemiren dari destinasi wisata lain di kawasan sekitarnya adalah fokusnya pada pelestarian budaya Suku Osing. Desa ini merupakan basis dari suku Osing, kelompok etnis asli Banyuwangi yang kaya akan tradisi, bahasa, ritual, musik, dan kesenian.

Misalnya, setiap minggu pagi digelar pasar kuliner tradisional yang menyajikan berbagai masakan lokal dan kudapan yang unik, sementara berbagai atraksi tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, dan pertunjukan tari Gandrung memberikan warna tambahan bagi pengalaman wisatawan. Melalui kegiatan-kegiatan ini, para wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak untuk memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Osing.

Selain itu, edukasi mengenai kebiasaan lokal seperti ramah tamah dalam menerima tamu — yang di desa ini dikenal dengan ajaran “suguh, gupuh, lungguh” — menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan bagi pengunjung.

Pengakuan dan Prestasi yang Membanggakan
Usaha keras warga Desa Kemiren dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya juga telah mendapat pengakuan di tingkat yang lebih luas. Desa ini berhasil masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 setelah bersaing dengan ribuan desa wisata dari seluruh Indonesia, sebuah prestasi yang menunjukkan kualitas dan keunikan yang dimiliki desa ini.

Tidak hanya itu, Desa Kemiren juga menjadi bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025) yang diselenggarakan oleh United Nations Tourism (UN Tourism) — sebuah pengakuan internasional atas upaya pelestarian budaya dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Prestasi lain yang turut mengangkat nama desa ini adalah penghargaan Internasional The 5th ASEAN Homestay Award 2025 pada kategori homestay, yang menegaskan bahwa bentuk penginapan yang dikembangkan di desa ini tidak hanya nyaman tetapi juga mencerminkan kehidupan budaya setempat.

Kesimpulan: Desa Wisata yang Menjadi Cerminan Budaya dan Pemberdayaan
Desa Wisata Adat Osing Kemiren kini bukan sekadar tujuan wisata alternatif dekat Bali, tetapi telah menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan. Dengan fokus pada pengalaman budaya otentik, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata, serta pengakuan atas prestasi yang diraih, desa ini menunjukkan bahwa destinasi wisata bukan hanya soal pemandangan yang indah, tetapi juga tentang cerita, tradisi, dan manusia di baliknya.

Apakah Anda merencanakan perjalanan ke Bali dan sekitarnya? Sebuah kunjungan ke Desa Kemiren bisa menjadi pelengkap pengalaman yang memperkaya wawasan budaya Anda selain menikmati keindahan Pulau Dewata.

Terkini