Peluncuran TFCCA Tandai Komitmen Global Jaga Terumbu Karang Indonesia

Kamis, 29 Januari 2026 | 10:10:26 WIB
Peluncuran TFCCA Tandai Komitmen Global Jaga Terumbu Karang Indonesia

JAKARTA - Upaya menjaga ekosistem laut Indonesia memasuki babak baru melalui peluncuran program kolaboratif berskala nasional. 

Inisiatif ini menempatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama konservasi. Pendekatan tersebut dirancang agar keberlanjutan lingkungan berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial.

Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act resmi diluncurkan secara nasional. Sebanyak 58 organisasi dan inisiatif lokal dinyatakan lolos dan siap menjadi pelaksana siklus pertama. Program ini dijalankan di tiga bentang laut prioritas Indonesia.

TFCCA dikenal sebagai program pendanaan inovatif pertama di dunia yang berfokus pada konservasi terumbu karang. Skema ini mengaitkan perlindungan ekosistem dengan penguatan kapasitas masyarakat. Model tersebut dirancang agar manfaat ekologis dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Penandatanganan Hibah Menandai Dimulainya Implementasi Program

Sebagai penanda dimulainya pelaksanaan program, perjanjian hibah resmi ditandatangani. Kegiatan tersebut digelar di Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026. Tujuh perwakilan penerima hibah hadir mewakili seluruh pelaksana program.

Ketujuh perwakilan tersebut akan menjalankan berbagai kegiatan konservasi. Program mencakup pembentukan hingga penguatan mata pencaharian masyarakat pesisir. Pendekatan ini menempatkan ketahanan ekonomi sebagai bagian dari konservasi.

Penandatanganan tersebut merupakan bagian dari siklus pertama hibah TFCCA. Total nilai pendanaan dari Pemerintah Amerika Serikat mencapai lebih dari 35 juta dolar AS. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung program konservasi berbasis komunitas.

Pendekatan Konservasi Berbasis Kesejahteraan Masyarakat

Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Peter M. Haymond menegaskan keterkaitan konservasi dan kesejahteraan. Menurutnya, perlindungan laut tidak hanya menyangkut lingkungan. Aspek mata pencaharian dan ketahanan pangan menjadi bagian penting.

“Melindungi ekosistem laut bukan hanya tentang konservasi, tetapi juga tentang mata pencaharian, ketahanan pangan, dan kemakmuran jangka panjang,” ujar Haymond.

Ia menyebut TFCCA mengalihkan kewajiban pembayaran negara menjadi hibah. Dana tersebut digunakan untuk mendukung konservasi yang dipimpin masyarakat setempat.

“Melalui Program TFCCA, Amerika Serikat bangga bermitra dengan Indonesia untuk mendukung organisasi-organisasi yang memberikan solusi praktis yang melindungi terumbu karang sekaligus memperkuat ekonomi lokal,” imbuhnya. 

Program ini menegaskan kemitraan strategis lintas negara. Kolaborasi tersebut diharapkan memberi dampak berkelanjutan.

Pendanaan Global Perkuat Perlindungan Bentang Laut Prioritas

TFCCA menjadi pendanaan inovatif antara Indonesia dan Amerika Serikat. Program ini secara khusus mencakup konservasi terumbu karang berbasis komunitas. Pelaksanaannya dilakukan oleh entitas masyarakat lokal.

Program ini diperkuat oleh kontribusi lembaga mitra internasional dan nasional. Conservation International dan Konservasi Indonesia memberikan dukungan sebesar 3 juta dolar AS. The Nature Conservancy bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara turut menyumbang 1,5 juta dolar AS.

Pendanaan tersebut digunakan untuk melindungi ekosistem terumbu karang. Fokus utama berada di Kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia. Tiga bentang laut prioritas meliputi Kepala Burung, Sunda Kecil, dan Banda.

Komitmen Pemerintah Dorong Diplomasi Biru Berkelanjutan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan peran strategis Indonesia. Wilayah Indonesia menjadi pusat keanekaragaman terumbu karang dunia. Tanggung jawab tersebut menuntut komitmen kebijakan yang kuat.

“Di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan praktik penangkapan ikan destruktif, konservasi terumbu karang menjadi agenda strategis pemerintah dalam kerangka kebijakan Ekonomi Biru,” kata Sakti. Program TFCCA dipandang mendukung agenda nasional tersebut. Sinergi global dan lokal menjadi kunci keberhasilan.

“Program TFCCA juga merupakan salah satu upaya diplomasi biru yang mengedepankan sinergi global hingga tingkat lokal untuk mendukung konservasi ekosistem laut khususnya terumbu karang yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan,” lanjutnya. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai mitra utama. Program dirancang agar adaptif dan berkelanjutan.

Seleksi Ketat Pastikan Program Tepat Sasaran

Sebelum peluncuran, TFCCA telah melalui proses seleksi hibah tahap pertama. Proses seleksi dilakukan secara kompetitif dan transparan. Penilaian melibatkan tim independen.

Sebanyak 323 proposal diajukan oleh berbagai pihak. Proposal berasal dari LSM, kelompok masyarakat, dan praktisi konservasi lokal. Dari jumlah tersebut, 58 proposal dinyatakan lolos penilaian teknis dan safeguards.

Melalui TFCCA, Indonesia dan Amerika Serikat menegaskan pendekatan konservasi terpadu. Terumbu karang diposisikan sebagai fondasi ekologi dan ekonomi. Semangat program dirangkum dalam pesan terumbu karang terjaga, masyarakat berdaya, ekonomi sejahtera.

Penerima Hibah Wakili Keberagaman Wilayah Pesisir

Tujuh perwakilan penerima hibah hadir dalam tahap awal pelaksanaan. Mereka mewakili berbagai wilayah pesisir Indonesia. Keberagaman ini mencerminkan inklusivitas program.

Penerima hibah berasal dari Papua Barat Daya, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Bali, Maluku Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. Setiap kelompok membawa pendekatan konservasi yang sesuai konteks lokal. Keterlibatan masyarakat adat dan kelompok perempuan menjadi perhatian utama.

Melalui pelaksanaan TFCCA, diharapkan konservasi terumbu karang berjalan efektif. Program ini dirancang memperkuat ketahanan sosial-ekologis pesisir. Sinergi ini diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi Indonesia.

Terkini