Astra (ASII) Hadapi Tantangan Besar: Pelemahan Daya Beli Jadi Momok Pasar Otomotif 2025

Jumat, 14 Februari 2025 | 10:54:25 WIB
Astra (ASII) Hadapi Tantangan Besar: Pelemahan Daya Beli Jadi Momok Pasar Otomotif 2025

JAKARTA – PT Astra International Tbk. (ASII) menyatakan bahwa pelemahan daya beli masyarakat akan menjadi tantangan besar dalam penjualan kendaraan roda empat pada 2025. Kondisi ekonomi global yang belum stabil serta kebijakan pajak yang semakin ketat menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar otomotif nasional.

Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, mengungkapkan bahwa pasar kendaraan roda empat tahun ini diperkirakan masih penuh tantangan. “Karena tahun kemarin juga pasarnya enggak mencapai 1 juta, dan banyak global exposure yang bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia. Jadi, daya beli itu menjadi salah satu juga concern kami,” ujar Tira.

Dampak Pajak Opsen dan Kebijakan Pemerintah

Selain daya beli, penerapan pajak opsen yang meskipun ditunda, tetap menjadi ancaman bagi industri otomotif. “Jadi ini merupakan tantangan untuk pasar otomotif di tahun ini. Saya rasa saat ini melihat situasi yang ada, masih diamati dulu perkembangannya akan seperti apa,” tambah Tira.

Pemerintah juga berencana menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada 2025. Kebijakan ini diprediksi akan berpengaruh besar terhadap harga jual kendaraan bermotor, mengingat PPN juga dikenakan pada barang yang telah terkena Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), termasuk kendaraan roda empat.

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD), opsen pajak daerah juga akan diterapkan secara bertahap. Hal ini berpotensi menambah beban pajak bagi industri otomotif dan memperlambat pertumbuhan penjualan kendaraan di Indonesia.

Penurunan Penjualan Astra di 2024

Berdasarkan data resmi Astra, sepanjang 2024 perusahaan mencatatkan penjualan sebanyak 482.964 unit kendaraan, turun 13,86% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 560.717 unit.

Penjualan mobil segmen low cost green car (LCGC) Astra juga mengalami penurunan sebesar 13,55% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari 151.913 unit pada 2023 menjadi 131.328 unit pada 2024. Meski demikian, pangsa pasar Astra tetap bertahan di level 56% pada Desember 2024, sementara pangsa pasar LCGC Astra bertahan di angka 74%.

Analisis Pasar dan Prospek Saham ASII

Meskipun menghadapi tantangan di sektor otomotif, saham ASII dinilai masih memiliki prospek positif. Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menyatakan bahwa diversifikasi usaha Astra di berbagai sektor menjadi faktor penopang utama. “Aliran pendapatan yang terdiversifikasi membuat Astra lebih resilient di tengah tekanan pasar otomotif. Jika sektor otomotif melemah, kinerja keuangan dapat ditopang oleh lini usaha lainnya,” kata Jason.

Pada perdagangan Jumat, 14 Februari 2025  pukul 10.38 WIB, saham ASII terpantau stagnan di level Rp4.460. Sejak awal tahun, harga saham perusahaan turun 4,90%, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp188,65 triliun.

Dengan adanya tantangan dari pelemahan daya beli hingga kebijakan pajak yang lebih ketat, industri otomotif harus mencari strategi baru untuk bertahan. Astra International diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi pasar guna mempertahankan posisinya sebagai pemimpin di sektor otomotif nasional.

Terkini