Potensi Pertumbuhan Mobil Listrik di Indonesia: Tantangan dan Peluang di Tengah Transisi Energi

Rabu, 12 Februari 2025 | 11:40:36 WIB
Potensi Pertumbuhan Mobil Listrik di Indonesia: Tantangan dan Peluang di Tengah Transisi Energi

JAKARTA - Pasar mobil listrik di Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan bahwa potensi pasar ini masih sangat terbuka, terutama mengingat Indonesia yang tengah berada dalam fase awal transisi menuju elektrifikasi kendaraan di sektor otomotif.

Mengacu pada data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales mobil listrik nasional tercatat mencapai 42.889 unit pada tahun 2024. Angka ini merepresentasikan lonjakan sebesar 151,53% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan kontribusi mobil listrik sebesar 4,95% terhadap total penjualan wholesales mobil nasional, jelas bahwa segmen ini mulai menggeliat dan menampakkan taringnya di pasar otomotif dalam negeri.

Proyeksi potensi pertumbuhan ini tidak terhenti di sini. Yannes memprediksi bahwa pangsa pasar mobil listrik di Indonesia dapat meningkat sekitar 7% hingga 8% pada tahun 2025. Hal ini setara dengan penjualan sebanyak 63.000 hingga 72.000 unit. "Angka ini mengindikasikan optimisme terhadap pertumbuhan penjualan mobil listrik yang didukung oleh beberapa faktor penunjang," ujar Yannes.

Faktor-faktor penunjang tersebut mencakup insentif pemerintah yang semakin menarik, semakin banyaknya pilihan merek yang masuk ke pasar, serta meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan konsumen. Kesadaran ini menjadi motor penggerak utama bagi para konsumen untuk beralih ke solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Namun demikian, meskipun terdapat peningkatan penjualan yang cukup pesat, mobil listrik di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghambat pertumbuhan potensialnya. Salah satu tantangan utama adalah infrastruktur pengisian daya yang belum merata, terutama di luar kota-kota besar. "Keterbatasan ini membuat konsumen ragu untuk beralih sepenuhnya ke mobil listrik, terutama bagi mereka yang sering melakukan perjalanan jarak jauh," jelas Yannes.

Selain infrastruktur, harga mobil listrik meski telah didukung oleh insentif pajak tetap menjadi pertimbangan krusial bagi sebagian besar konsumen. Pasar mobil di Indonesia saat ini didominasi oleh kendaraan jenis Low Cost Green Car (LCGC), Low MPV, dan City Car dengan harga rata-rata di bawah Rp 300 juta. Kendaraan-kendaraan ini menjadi pilihan utama karena keterjangkauannya dan kesesuaian dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari masyarakat.

Yannes juga menambahkan bahwa kondisi ini mencerminkan daya beli riil dan preferensi konsumen otomotif di Indonesia. Maka dari itu, menurutnya, mobil listrik yang ideal di pasar Indonesia sebaiknya dipatok pada kisaran harga Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. "Angka ini akan berpotensi besar dapat menarik minat konsumen secara signifikan," imbuh Yannes.

Jika produsen dapat menghadirkan model mobil listrik yang dihargai di bawah Rp 200 juta atau sekitar Rp 200-300 juta terus bermunculan, sangat mungkin bahwa produk-produk ini akan mendapatkan popularitas yang signifikan dan mampu mendisrupsi pasar otomotif secara keseluruhan. "Ini akan menempatkan mobil listrik dalam jangkauan yang sama dengan LCGC sebagai segmen paling terjangkau," ungkap Yannes.

Sejauh ini, hanya ada dua model mobil listrik yang dihargai di bawah Rp 200 juta, yaitu Wuling Air ev Lite dan Seres E1. Namun, kehadiran kedua model ini bisa menjadi pijakan awal untuk membuka pasar lebih luas dan menarik minat konsumen yang lebih besar terhadap mobil listrik.

Sebagai kesimpulan, potensi mobil listrik di Indonesia memang terbilang cerah dengan proyeksi pertumbuhan yang menjanjikan. Namun, untuk benar-benar dapat memanfaatkan peluang ini, perlu adanya upaya terpadu dari pemerintah, pelaku industri, dan konsumen. Pemerintah diharapkan dapat terus mengembangkan infrastruktur pendukung, sementara pelaku industri harus aktif menghadirkan produk-produk yang sesuai dengan preferensi dan daya beli konsumen. Di sisi lain, kesadaran konsumen terhadap pentingnya menjaga lingkungan juga harus terus ditingkatkan, agar transisi menuju era kendaraan listrik bisa berjalan dengan cepat dan lancar.

Terkini