Pembiayaan Syariah Tumbuh 9,14 Persen, Leasing Jual Banyak Mobil Bekas

Pembiayaan Syariah Tumbuh 9,14 Persen, Leasing Jual Banyak Mobil Bekas

BULETINFINANSIAL.COM — Bisnis pembiayaan syariah di Indonesia sedang menikmati fase ekspansi. OJK mencatat pertumbuhan piutang pembiayaan syariah mencapai 9,14 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026. Angka ini menunjukkan sektor ini mampu bergerak lebih lincah di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pembiayaan syariah punya ruang tumbuh yang lebih kuat di segmen ritel. Jenis pembiayaan yang paling banyak diminati adalah kendaraan bekas dan kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pembiayaan kendaraan konvensional yang justru masih lesu.

Bukan Cuma Efek Ramadan

Momentum Ramadan, hari raya, hingga musim umrah dan haji memang ikut mendorong transaksi pada semester I-2026. Namun Yusuf menilai faktor musiman tidak cukup untuk menjelaskan lonjakan ini. Ia melihat tren pertumbuhan sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun lalu, yang mengindikasikan adanya pergeseran preferensi nasabah terhadap produk berbasis syariah.

Produk pembiayaan syariah kini juga semakin beragam. Distribusinya lebih luas dibanding beberapa tahun sebelumnya. Skema murabahah menjadi primadona karena mudah dipahami masyarakat, terutama untuk pembelian kendaraan dan barang kebutuhan rumah tangga.

Proyeksi Semester II dan Tantangan Kualitas Kredit

Memasuki semester II-2026, laju pertumbuhan diprediksi melambat. Yusuf memperkirakan pertumbuhan akan lebih moderat karena dorongan Ramadan dan Lebaran sudah tidak ada. Meski begitu, segmen umrah, kendaraan bekas, dan pembiayaan ritel diyakini masih menjadi penopang utama.

Industri pembiayaan syariah diperkirakan mampu menutup tahun dengan pertumbuhan di kisaran high single digit hingga low double digit. Angka ini tetap lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan industri multifinance secara keseluruhan.

Kendati optimisme terjaga, ada pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan. Perusahaan pembiayaan harus menjaga kualitas pembiayaan agar pertumbuhan tidak sekadar mengejar volume. Risiko kredit di industri sedang meningkat, sehingga seleksi nasabah dan manajemen risiko menjadi kunci agar kinerja positif ini berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index