Awal Pekan Mata Uang Rupiah Dibuka Menguat ke Posisi Rp17.680 per Dolar

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:54:51 WIB
Ilustrasi US Dolar dan Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs rupiah mengawali sesi transaksi awal pekan dengan bergerak terangkat atas dolar Amerika Serikat (AS).

Capaian positif tersebut meneruskan tren penguatan mata uang Garuda sepanjang tiga perdagangan sebelumnya.

Mengutip data Refinitiv, pada pembukaan sesi Senin (24/8/2026), rupiah terangkat 0,03 persen menuju tingkat Rp17.680 per dolar AS.

Pada sesi transaksi Jumat (21/8/2026), nilai rupiah mengakhiri sesi dengan menguat 0,31 persen pada kisaran Rp17.685 per dolar AS.

Pencapaian tersebut menjadi posisi penutupan tertinggi bagi rupiah sejak 22 Mei 2026.

Di waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback atas enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB tercatat naik tipis 0,03 persen ke level 98,834.

Dinamika rupiah pada hari ini diprediksi masih diwarnai faktor luar negeri, terutama melambungnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, ketegangan di kawasan Timur Tengah, serta penantian atas arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed).

Pada transaksi Jumat, yield Treasury tenor 10 tahun merangkak ke 4,738 persen, sedangkan tenor 30 tahun berada di posisi 5,276 persen.

Tingginya yield surat utang AS dapat mendongkrak daya pikat aset berbasis dolar serta menahan ruang bagi penguatan rupiah.

Pelaku pasar turut mengamati wacana sanksi anyar AS atas Iran sekaligus menunggu perhelatan simposium tahunan The Fed di Jackson Hole pada pekan ini.

Dari ranah domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 membengkak mencapai US$12,49 miliar, dari posisi US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.

Pembengkakan itu utamanya didorong oleh naiknya defisit sektor perdagangan migas serta menyusutnya surplus perdagangan nonmigas.

Dari sumbernya berpandangan pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) bakal menahan ruang penanjakan rupiah.

Makin besar defisit pada transaksi berjalan, kian tinggi pula kebergantungan Indonesia atas arus dana luar negeri guna menutupi kebutuhan pembiayaan eksternal.

Situasi tersebut menjadikan rupiah rawan diterpa gejolak.

Berdasarkan paparan dari sumbernya, posisi Rp18.000 per dolar AS tetap berpotensi kembali diuji jika tekanan eksternal meningkat atau masukan modal asing tak mencukupi pemenuhan kebutuhan pembiayaan tersebut.

"Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.

Sektor pasar juga bakal mencermati proses suksesi kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Komisi XI DPR dijadwalkan melangsungkan uji kepatutan dan kelayakan atas calon Gubernur BI dari sumbernya pada Rabu (26/8/2026).

Kepastian figur pemimpin BI menjadi fokus bagi pasar lantaran berkaitan erat dengan keberlanjutan garis kebijakan moneter serta stabilitas kurs rupiah.

Tags

Terkini