JAKARTA - Aliran modal asing (inflow) menuju pasar keuangan Indonesia diperkirakan tetap deras meskipun imbal hasil (yield) surat utang dalam negeri mulai menunjukkan tren melandai.
Kondisi tersebut dinilai memberi sinyal positif bagi kestabilan kurs rupiah ke depannya.
Berdasarkan catatan media, sepanjang Juni 2026, investor asing tercatat melakukan pembukuan inflow mencapai Rp21,03 triliun pada Surat Berharga Negara (SBN) serta Rp70,39 triliun pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Pada saat bersamaan, di bursa saham pihak asing masih mencatatkan net sell senilai Rp19,63 triliun.
Masuknya arus modal tersebut terjadi usai Bank Indonesia (BI) mengerek BI Rate ke level 5,75 persen pada Juni 2026.
Langkah kenaikan suku bunga itu memicu peningkatan yield beragam instrumen surat utang domestik sehingga tampil makin menarik buat pemodal asing yang memburu aset berimbal hasil tinggi di tengah ketatnya suku bunga global.
Maraknya modal asing yang masuk pada instrumen berbasis rupiah tercermin lewat lonjakan porsi kepemilikan asing di SRBI.
Kepemilikan modal asing pada instrumen ini melonjak dari Rp114,05 triliun di bulan Desember 2025 menjadi Rp293,16 triliun pada Juni 2026.
Dengan begitu, porsi penguasaan asing di SRBI merambat naik dari 16,15 persen menjadi 27,33 persen dari total outstanding yang menyentuh Rp1.072,62 triliun.
Pada kurun akhir Juni 2026, yield SRBI tenor enam bulan berada di angka 7,36 persen, tenor sembilan bulan 7,54 persen, serta tenor satu tahun 7,70 persen per tahun.
Sementara itu, tingkat yield SBN berada di posisi relatif tinggi, untuk tenor satu tahun sebesar 6,94 persen, tenor dua tahun 6,95 persen, tenor lima tahun 7,02 persen, dan tenor 10 tahun 7,10 persen.
Namun, menginjak Agustus 2026, imbal hasil surat utang pemerintah mulai memperlihatkan arah penurunan.
Pada perdagangan Jumat (21/8/2026), transaksi Surat Utang Negara (SUN) melanjutkan penguatan berbarengan dengan kurs rupiah yang kembali stabil pada kisaran Rp17.695 per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, yield SUN susut pada hampir seluruh tenor.
Keresetan paling dalam melanda tenor dua tahun yang meluncur 12,8 basis poin (bps) menuju 6,64 persen.
Selanjutnya, yield tenor sembilan tahun susut 11,4 bps menuju 7,08 persen.
Sedangkan yield SBN tenor 10 tahun yang menjadi barometer pasar obligasi tanah air kembali turun 5,7 bps ke 6,96 persen.
Kelesuan yield turut terlihat pada lelang SRBI.
Pada Agustus, yield pemenang lelang turun ke 7,06 persen untuk tenor enam bulan, 7,21 persen untuk tenor sembilan bulan, serta 7,37 persen untuk tenor 12 bulan.
Dari sumbernya menyatakan, penurunan yield SRBI tidak otomatis membuat minat investor asing pada instrumen tersebut menjadi surut.
"Karena tentunya kami enggak ingin SRBI rate kami mengalami peningkatan. Sehingga, kalau kami lihat dalam dua minggu terakhir ini suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan, namun inflow tetap masuk," jelas dari sumbernya dalam RDG, Rabu (19/8/2026).
Dari sumbernya berpandangan kondisi global serta domestik saat ini relatif lebih stabil dibanding kuartal sebelumnya.
Situasi tersebut berpotensi meringankan beban terhadap rupiah sekaligus membuka peluang bagi penurunan yield SRBI.
"Berbagai faktor global dan juga faktor-faktor domestik kelihatannya relatif lebih kondusif sekarang dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan ini mendukung penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Prediksi kami ini akan bisa diikuti oleh penurunan suku bunga SRBI di dalam negeri," ujar dari sumbernya dalam konferensi pers Paparan Kinerja Citi Indonesia, Kamis (20/8/2026).
Menurut dari sumbernya, salah satu pemicu eksternal yang menopang rupiah yakni tren harga minyak dunia yang mulai merosot dibanding kuartal II 2026.
Pihaknya menaksir perselisihan di kawasan Timur Tengah bakal terus mereda.
Jika kelancaran transaksi minyak melewati Selat Hormuz pulih secara utuh, pasokan minyak bumi global berpotensi melebihi jumlah permintaan.
Penurunan harga minyak tersebut juga berpeluang menyumbang imbas positif pada neraca transaksi berjalan Indonesia.
Dari sumbernya memproyeksikan defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia sanggup menyusut pada semester II 2026, seiring dengan melandainya harga minyak dan melambatnya laju ekonomi yang menahan potensi lonjakan impor.
"Penurunan harga minyak kami perkirakan akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III dibanding kuartal II," kata dari sumbernya.
Dari sumbernya memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia di semester II 2026 sanggup mengecil kembali ke kisaran 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), dibanding estimasi defisit di atas 2 persen PDB pada kuartal II.
Di samping harga minyak, elemen global lain yang dinilai menguntungkan rupiah ialah prospek landainya yield US Treasury sampai penutupan tahun.
Pihaknya memprediksi The Federal Reserve (The Fed) tak akan menaikkan suku bunga dan bahkan tetap membuka ruang penurunan suku bunga sebelum akhir tahun.
Tafsiran tersebut disokong oleh tren inflasi inti Amerika Serikat yang dinilai berpeluang susut dari 2,5 persen menuju rentang 2,2 persen-2,3 persen.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed juga berpotensi menekan indeks dolar AS atau DXY.
Pihaknya memproyeksikan dolar AS bakal terkulai terhadap euro maupun yuan China.
Situasi tersebut pada gilirannya sanggup meredam tekanan atas mata uang rupiah.
Dari ranah domestik, dari sumbernya mencermati minat investor asing terhadap SBN Indonesia mulai menanjak pada kuartal III 2026 dibanding kuartal sebelumnya.
Faktor pendukungnya yaitu kondisi fiskal Indonesia yang dipandang semakin membaik.
Defisit APBN 2026 diproyeksi tetap di bawah 3 persen PDB, berbarengan dengan penyesuaian serta penundaan sejumlah pengeluaran dan percepatan penerimaan pajak.
Selain itu, rancangan defisit APBN 2027 yang bertahan di bawah 3 persen PDB dinilai menepis kekhawatiran pemodal obligasi atas risiko oversupply SBN pada pasar domestik.
"Menurunnya defisit transaksi berjalan serta kembalinya appetite investor asing terhadap pasar SBN Indonesia kami perkirakan membuat suku bunga SRBI ke depannya memiliki ruang untuk penurunan," ujar dari sumbernya.
Dari sumbernya menaksir yield SRBI tenor 12 bulan masih bisa susut sekitar 25-75 basis poin (bps) hingga penghujung 2026 dari posisi saat ini.
Menurut pandangannya, landainya yield SRBI berpotensi terjadi lebih awal dibanding pemangkasan BI Rate.
Hal ini disebabkan lonjakan yield SRBI sejak awal tahun dinilai jauh lebih tinggi disbanding kenaikan BI Rate.
"Ketika suku bunga bergerak turun, yang akan turun terlebih dahulu itu adalah SRBI, bukan BI Rate," jelasnya.
Berlandaskan situasi tersebut, melandainya yield SRBI dan SBN tak selalu menandakan surutnya daya pikat aset Indonesia bagi pemodal luar negeri.
Malahan, jika penurunan yield berlangsung seiring membaiknya prospek rupiah, berkurangnya risiko eksternal, dan meningkatnya kepercayaan terhadap kondisi fiskal, arus modal asing tetap berpeluang berlanjut.
Kendati demikian, dari sumbernya memberi peringatan atas deretan risiko yang sanggup merubah proyeksi itu.
Salah satunya yakni ancaman inflasi akibat El Nino yang berpotensi lebih terasa mendekati akhir tahun atau pada tahun berikutnya.
Ancaman lain bersumber dari potensi mencuatnya kembali gesekan di Timur Tengah yang sanggup memacu harga minyak dunia dan memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan serta rupiah.
Dengan demikian, arah yield SRBI dan rupiah ke depan amat bergantung pada kombinasi iklim global, harga komoditas, garis kebijakan bank sentral utama dunia, serta fundamental domestik Indonesia.