Penyebab Produksi Minyak Harian Indonesia Anjlok di Bawah 600 Ribu Barel

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:54:48 WIB
Pompa angguk Wilayah Kerja. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa besaran produksi minyak rata-rata selama bulan Januari hingga Juli 2026 terpantau mencapai 578.156 barel per hari (bph).

Perolehan produksi minyak tersebut masih terhitung lebih rendah atau baru sekitar 95% dari target produksi di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar 610.000 bph.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman memaparkan, ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab masih kecilnya produksi minyak sampai pertengahan tahun ini.

Pertama, insiden kebocoran serta kebakaran pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) Area KP 222 pada tanggal 2 Januari 2026 serta KP 294 pada tanggal 9 Januari, yang mengakibatkan terganggunya suplai gas demi produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) atau Blok Rokan, Riau, yang dioperatori PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Berdasarkan keterangan dari Sumbernya, pengerjaan penanggulangan kebocoran pipa gas ini sudah selesai dikerjakan.

Kedua, kejadian serupa juga berlangsung di Blok Rokan, yakni munculnya kendala pada sistem kelistrikan pembangkit listrik MCTN.

Yang bersangkutan mengakui, saat ini infrastruktur kelistrikan di Blok Rokan tersebut masih belum normal, di mana ada satu unit (Unit 3) yang sampai detik ini masih diusahakan agar dapat difungsikan kembali secara utuh.

"Yang kedua juga masih di Rokan, ini terkait dengan kendala sistem kelistrikan yang hingga saat ini masih kami upayakan agar pembangkit ini nanti bisa segera kami perbaiki dan dioperasikan kembali, sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan," jelas Laode saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Rabu (26/8/2026).

Ketiga, timbulnya hambatan teknis operasional pada Wilayah Kerja Cepu serta terjadinya percepatan penurunan produksi secara alami (natural decline).

"Memang Blok Cepu ini pada tahun 2026 ini memiliki kondisi natural decline yang agak ekstrem. Kami sudah melakukan serangkaian diskusi dengan operator lapangan, operator WK, dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi, sehingga saat ini kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar. Jadi jangan turun lagi seperti itu yang kami lakukan dengan lapangan Cepu," paparnya.

Sementara itu, untuk produksi gas bumi sampai dengan Juli 2026 tercatat rata-rata berada di angka 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Jumlah ini pun masih berada di bawah target APBN 2026 yang dipatok sejumlah 6.837 MMSCFD.

Perlu dicatat, realisasi produksi minyak tahun 2025 tercatat sebesar 606,1 ribu bph serta produksi gas sejumlah 6.753 MMSCFD.

Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 tersebut, hal ini mengindikasikan bahwa produksi minyak dan gas bumi sepanjang tahun 2026 mengalami penurunan.

Merujuk pada catatan SKK Migas, produksi minyak Blok Rokan yang dipegang oleh PHR sampai Juli 2026 tercatat sebesar 133.581 bph, atau baru mencapai 81,5% dari target APBN yang ditetapkan sebesar 163.859 bph.

Begitu pula dengan produksi minyak dari Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd, produksi minyak hingga Juli 2026 tercatat sebesar 124.266 bph, atau baru menyentuh 83,7% dari target APBN senilai 148.500 bph.

Tags

Terkini