Dolar AS Melemah Rupiah Punya Peluang Menguat Terbatas Pada Awal Pekan

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:36 WIB
Ilustrasi Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah berpeluang mengalami kenaikan tipis pada perdagangan di awal pekan.

Apresiasi ini ditopang oleh merosotnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) beserta dukungan transmisi kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia.

Merujuk pencatatan data Bloomberg pada Jumat (21/8/2026), mata uang Indonesia tersebut mengakhiri sesi dengan kenaikan 0,30% atau 54 poin menuju posisi Rp17.694 per dolar AS.

Sementara itu, acuan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia merangkak naik 0,42% dari level Rp17.779 menjadi Rp17.705 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dari sumbernya memaparkan bahwa laju penguatan rupiah pada penutupan pekan lalu utamanya didorong oleh kemerosotan indeks DXY ke level 98,73 seiring keputusan Departemen Keuangan AS memperluas program buyback surat utang jangka panjang serta masih berlanjutnya ketidakpastian arah kebijakan The Fed.

Dari dalam negeri, langkah Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga BI-Rate pada posisi 5,75% sukses menjaga daya tarik imbal hasil aset domestik, yang ditunjukkan oleh masuknya net inflow portofolio asing triwulan III senilai US$1,8 miliar sampai pertengahan Agustus.

Upaya BI dalam menyediakan fasilitas insentif swap lindung nilai dan menjaga kestabilan pasar valuta asing turut menjadi penopang bagi pergerakan mata uang Garuda.

Kendati demikian, tingginya imbal hasil US Treasury durasi 10 tahun di kisaran 4,71% serta harga minyak jenis Brent yang bertahan di atas US$93 per barel mengindikasikan bahwa kondisi pasar belum sepenuhnya aman.

“Penutupan Rp 17.694 lebih tepat dibaca sebagai penguatan berbasis pelemahan dolar dan dukungan kebijakan domestik, bukan perubahan rezim menuju apresiasi panjang,” ungkap pakar ekonomi dari sumbernya, Jumat (21/8/2026).

Menjelang perdagangan Senin (24/8/2026), arah pergerakan nilai rupiah akan amat bergantung pada respons pasar global sepanjang akhir pekan terhadap dinamika DXY, rilis indikator ekonomi AS, serta eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendongkrak harga minyak mentah.

Di sisi lain, instrumen pro-pasar layaknya SRBI dan SBN ditaksir masih sanggup menahan risiko arus modal keluar.

“Indikator pembuka Senin yang paling penting ialah DXY, UST 10Y, Brent, dan arus portofolio,” kata ekonom dari sumbernya.

Untuk sesi transaksi Senin (24/8/2026), ekonom dari sumbernya memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang batas Rp17.620–Rp17.780 per dolar AS dengan titik keseimbangan awal pada kisaran Rp17.680–Rp17.720 per dolar AS.

Apabila indeks DXY terus melemah dan aliran modal asing mengalir deras ke instrumen SRBI, rupiah berpeluang memasuki skenario menguat di rentang Rp17.550–Rp17.620, namun potensi risk-off dapat menekan kurs menuju kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS.

Tags

Terkini