Harga Perak Antam Hari Ini Naik 350 Rupiah Saat Perak Dunia Turun

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:24 WIB
Harga Perak Antam Hari Ini Naik 350 Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penguatan pada transaksi Senin, (24/8/2026). Kenaikan nilai perak Antam hari ini mengekor nilai emas Antam dan berlawanan arah dari nilai perak global.

Mengutip laman logam mulia.com, nilai perak Antam hari ini meningkat Rp 350 menjadi Rp 45.900 pada perdagangan Senin pekan ini. Pada transaksi sebelumnya, nilai perak Antam ditetapkan Rp 45.550.

Antam menyediakan perak batangan 250 gram, 500 gram serta perak butiran murni 99,95%. Perak batangan Antam ukuran 250 gram dihargai Rp 12.000.000, perak batangan 500 gram ditetapkan Rp 23.075.000 per gram.

Kemudian bagaimana nilai perak global?

Mengutip tradingeconomics.com, nilai perak global merosot 0,07% menjadi US$ 68,91.

Nilai perak ditransaksikan di atas US$ 69 per ons pada Senin, bertahan dekat level tertinggi dalam dua bulan, di tengah kecemasan yang terus membayang terkait pengelolaan utang dan keberlanjutan fiskal AS sesudah Departemen Keuangan secara mendadak menaikkan pembelian kembali utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang.

Langkah tersebut memicu penurunan imbal hasil obligasi dan kurs dolar, sehingga membangkitkan kembali minat pada aset lindung nilai dari penurunan nilai mata uang (debasement trade) dan memperbesar daya pikat perak sebagai penyimpan nilai alternatif.

Di area geopolitik, ancaman sanksi baru AS pada Iran menaikkan risiko gangguan lanjutan pada pasokan minyak Iran, yang berpotensi melambungkan harga energi dan membatasi ruang bagi penurunan suku bunga.

Para pemodal saat ini bakal mencermati data inflasi PCE Juli dan pidato Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh, di Jackson Hole untuk memperoleh petunjuk lanjutan mengenai prospek suku bunga AS. Sementara itu, rencana Kanada buat menerapkan tarif balasan pada beberapa komoditas AS menyusul kegagalan perundingan perdagangan turut menambah ketidakpastian ekonomi secara lebih luas.

Sebelumnya, nilai emas melonjak ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat, 21 Agustus 2026 (Sabtu waktu Jakarta), dan berada di jalur kenaikan mingguan selama tiga minggu berturut-turut. Lonjakan ini disokong oleh keberhasilan emas menembus posisi teknis penting, sementara rencana program pembelian kembali (buyback) obligasi dari Departemen Keuangan AS menekan pergerakan dolar AS.

Mengutip CNBC, Sabtu (22/8/2026), nilai emas di pasar spot naik 2,3% menjadi US$ 4.619,57 per ounce. Sementara itu, nilai emas berjangka AS melesat 2,4% ke posisi US$ 4.680,60.

Sepanjang pekan ini, nilai emas telah melonjak sekitar 5%, termasuk mencatatkan kenaikan harian tertinggi sejak awal Februari pada hari Rabu lalu.

Logam mulia ini juga bergerak di atas seluruh rata-rata pergerakan (moving average) utamanya, sesudah berhasil menembus pergerakan rata-rata 200 hari yang diawasi ketat di kisaran US$ 4.513. Ini merupakan suatu pergerakan yang dinilai dari Sumbernya sebagai sinyal positif (bullish).

"Faktor besarnya, tentu saja, adalah teknikal, langkah selanjutnya adalah menuju US$ 4.700 jika momentum ini berlanjut. Namun, saya pikir kenaikan ini juga sangat didorong oleh melemahnya dolar AS," ujar Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek.

Nilai tukar dolar AS tertahan dekat posisi terendahnya sejak pertengahan Mei. Pemantiknya, para pemodal mempertanyakan langkah Departemen Keuangan AS buat meredakan pasar obligasi yang justru dapat merusak kepercayaan pada mata uang tersebut.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent pada hari Kamis menyebutkan bahwa pemerintah dapat memperluas program buyback obligasi lebih lanjut. Keterangan ini disampaikan sehari sesudah kementeriannya mengumumkan rencana buat melipatgandakan pembelian kembali obligasi berjangka panjang.

"Permintaan opsi beli (call option) emas melonjak tajam di tengah tingginya kembali permintaan atas perlindungan kebijakan makro global, yang secara mekanis memperkuat lonjakan maupun penurunan harga," ungkap Goldman Sachs dalam catatan risetnya.

Goldman Sachs mencatat bahwa berkurangnya keyakinan pasar terkait kenaikan suku bunga AS sesudah keputusan Bank Sentral AS (The Fed) buat menahan suku bunga pada bulan Juli serta merilis data ekonomi yang melemah turut membangkitkan kembali minat spekulatif pada emas COMEX dan permintaan ETF emas yang sensitif pada suku bunga. Peningkatan permintaan opsi beli yang tinggi ini pun diperkirakan ikut memperkuat pergerakan harga.

Dari sisi permintaan fisik, lonjakan harga belakangan ini menahan minat pembeli eceran di India, sementara permintaan di China sebagai konsumen terbesar tetap stabil.

Sementara itu, data yang dirilis pada hari Jumat memperlihatkan bahwa bank sentral Polandia memperlambat pembelian emasnya menjadi 7,8 ton metrik pada Juli.

Tags

Terkini