JAKARTA - Nilai jual minyak dunia terkoreksi pada Senin (24/8/2026), ketika para pelaku pasar menunggu hal yang dinamakan Washington sebagai aksi ‘sanksi paling keras sepanjang sejarah’ kepada Iran.
Pada sisi lain, Teheran memandang sebelah mata gertakan tekanan finansial yang kian diperketat itu.
Nilai jual minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, terkikis sekitar 1,3% menjadi US$ 85,93 per barel.
Pada saat yang sama, nilai jual minyak mentah Brent, yang menjadi rujukan internasional, terdepresiasi 1,24% menjadi US$ 93,22 per barel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan merilis bundel sanksi anyar kepada Iran pada Senin (waktu AS).
"Saat fajar menyingsing, dimulailah D-Day ekonomi—serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap sebuah musuh," tulis Bessent dalam unggahannya di platform X.
Dari Sumbernya pekan lalu, Bessent membeberkan, Washington bakal menghancurkan Republik Islam Iran lewat "sanksi terberat dalam sejarah", seiring rezim Trump mendesak sekutu-sekutu AS dan negara lain guna memutus kaitan ekonomi bersama Teheran.
Pernyataan ini menyusul gertakan Presiden AS Donald Trump pekan lalu guna menggelar "operasi ekonomi paling menghancurkan" untuk Iran.
Trump pun mengingatkan penalti finansial berat untuk negara-negara yang menolong Teheran meloloskan diri dari sanksi, dengan memanggil langkah itu sebagai "Perang dan Isolasi Ekonomi" dalam tingkatan tak tertandingi.
Iran lantas menggalang ketahanan terhadap gertakan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan Teheran mempunyai taktik guna menepis efek buruk dari pertempuran yang disulut lawan serta sanggup secara gampang membangun relasi ekonomi bersama negara-negara lain, menurut media pemerintah Iran, dilansir Dari Sumbernya.
Commonwealth Bank of Australia (CBA) memprediksikan nilai jual minyak bakal tetap bergejolak pada paruh kedua tahun ini, sejalan pasar memantau apakah tindakan Washington guna mengucilkan Iran secara finansial bakal membuahkan hasil, serta bagaimana tanggapan Teheran kepadanya.
"Belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan efektif. Namun jika langkah-langkah AS tersebut berjalan sesuai rencana, kemampuan Iran untuk merespons lewat peningkatan kekerasan menjadi risiko yang kian besar bagi pasar energi untuk diwaspadai," tulis CBA dalam catatannya, Senin.
CBA pun memproyeksikan nilai jual minyak Brent bakal beredar di rentang US4 70-US$ 100 per barel pada paruh kedua 2026.
Lembaga perbankan itu menyebut nilai jual berpeluang merosot mendekati rentang bawah kisaran tersebut bilamana arus minyak melalui Selat Hormuz bangkit kembali kendati cuma sebagian, dengan kalkulasi 50% sampai 60% dari kapasitas sebelum pertempuran saja sudah memadai guna memicu lagi dugaan surplus pasokan di pasar dunia.